Umi Lestari

Big Village (1969) dari Usmar Ismail: Legitimasi Orde Baru di Masa Transisi

Usmar Ismail membuat Big Village (1969) atau Dusun Besar tepat di masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada momen ini, pemerintahan Orde Baru memang belum ‘turun gunung’ untuk secara resmi memberikan modal bagi pembuat film untuk menginternalisasikan nilai-nilai anti komunis dalam film. Selama masa transisi, Indonesia mulai membuka diri terhadap negara-negara non Tiongkok …

Big Village (1969) dari Usmar Ismail: Legitimasi Orde Baru di Masa Transisi Read More »

Terimalah Laguku dan Homage Untuk Si Tjonat

Apes benar nasib Djadoeg Djajakusuma. Badan sensor dan kritikus menganggap filem pertamanya tidak cocok untuk dengan modernitas yang ditempuh pemerintahan Soekarno. (Baca Embun, filem pertama Djadoeg Djajakusuma pada link berikut). Film keduanya, Terimalah Laguku (1952), mendapat guntingan sensor dan peredarannya terhenti. Suami menjewer istri dan lelaki takut pada perempuan menjadi alasan penyensoran. Maskulinitas pada tahun …

Terimalah Laguku dan Homage Untuk Si Tjonat Read More »

Djadoeg Djajakusuma Mengeksplorasi Tradisi dan Wonosari dalam Filem Embun (1951)

Sebelum menyutradarai Embun (1951), setidaknya Djadoeg Djajakusma telah berproses pada tiga film awal Perfini. Ia menjadi asisten Usmar Ismail dalam film nasional pertama, Darah dan Doa (1950). Kemudian dalam Enam Djam di Djogja (1950), Djadoeg Djajakusuma menjadi peneliti untuk mengumpulkan testimoni para pejuang Perang Revolusi 1945 – 1949. Sedangkan dalam karya ketiga Usmar Ismail, Dosa …

Djadoeg Djajakusuma Mengeksplorasi Tradisi dan Wonosari dalam Filem Embun (1951) Read More »

Dream Team ala Perfini

DSekitar tahun 1954, Usmar Ismail pernah menulis, “film adalah kesenian bersama (collective) yang membutuhkan ahli-ahli bagi tiap cabang pekerjaannya.” “Sari Soal dalam Filem Indonesia” di Konfrontasi No.1/Juli-Agustus 1954 Pernyataan ini ditulis setelah Usmar selesai sekolah di Amerika. Tentu menarik karena apabila kita menyandingkan wacana mengenai kepengarangan (auteur) dalam sinema  yang disematkan pada Usmar Ismail (lihat …

Dream Team ala Perfini Read More »

Citra: Melodrama Kegagalan Pemuda 

Sebagai penanda penting dalam sinema Indonesia, keberadaan Citra (Usmar Ismail, 1949) bagaikan hantu tanpa wajah. Judul film ini hingga sekarang masih dipakai sebagai sebuah penghargaan paling bergengsi di negeri +62. Piala Citra pertama kali dipakai saat Festival Film Indonesia lahir pada tahun 1955. Selain itu, di bidang sastra, kritikus sastra Indonesia berkebangsaan Belanda yakni A. …

Citra: Melodrama Kegagalan Pemuda  Read More »

Purple Sea: A Story from the Mediterranean Sea

Durasinya hanya 67 menit. Terkadang kamera menangkap langit tanpa horizon, tetapi ia lebih banyak berada di dalam air. Tidak ada penanda waktu yang pasti. Kapan terjadinya perjalanan di laut ini? Siapa saja yang terekam? Penonton hanya bisa melihat birunya laut dan langit, kaki yang dibalut celana jeans navy, dan pantulan warna orange dari jaket pelampung. …

Purple Sea: A Story from the Mediterranean Sea Read More »

Sinema Refleksif: Pengantar Film Eksperimental dari Asia Tenggara

Pada perhelatan UMN Animation and Film Festival (Ucifest) 2020 kali ini, saya berkesempatan untuk menunjukkan tiga film eksperimental dari Asia Tenggara. Penayangan ini akan berlangsung pada hari Rabu, 22 April 2020, Pukul 11 – 12.30 WIB. Berikut adalah pengantar yang saya buat untuk film Shotgun Tuding (Shireen Seno, 2014), Demos (Danaya Chulphutiphong, 2016), dan Pagi …

Sinema Refleksif: Pengantar Film Eksperimental dari Asia Tenggara Read More »

Perempuan Tanah Jahanam: Teror di Balik Keindahan

Tak ada kata yang bisa mewakili kekaguman saya pada adegan pembuka dalam Perempuan Tanah Jahanam. Ping pong percakapan hadir lewat Maya dan Dini yang bertukar obrolan lewat ponsel dalam kotak kecil di pintu tol. Bangunan adegan ini tampak ritmis disokong dengan jalinan gambar yang membuat penonton mampu menangkap pengalaman karakternya. Selain itu, ketakutan seorang perempuan …

Perempuan Tanah Jahanam: Teror di Balik Keindahan Read More »

Ambisi Gundala

Boredom menggelayut selama dua jam. Masa lalu superhero yang super tragis. Mendayu-dayu latar musik. Perkelahian melempem di akhir cerita. Karakter-karakter yang tak mendapat tempat layak. Kesan ini membuat saya bertanya-tanya: Di mana Joko Anwar yang mampu membuat teriakan saya menggema ke seluruh ruangan saat Pengabdi Setan (2017) menguasai bioskop Indonesia dua tahun lalu? Secara keseluruhan …

Ambisi Gundala Read More »

Pulang karya Basuki Effendy

Setiap melihat filem klasik Indonesia yang dibuat pada tahun 1950-an, saya selalu bertanya: Bagaimana para pekerja kreatif membayangkan Indonesia yang baru seumur jagung? Sebelum memasuki perdebatan estetika dari kelompok yang berafiliasi dengan LEKRA ataupun Lesbumi, setidaknya belum ada pembacaan detil yang menyasar pada filem-filem periode ini. Dari beberapa filem klasik Indonesia yang pernah saya tonton, …

Pulang karya Basuki Effendy Read More »

Dua Garis Biru: Akselerasi Kedewasaan

Sange gak kenal kelas sosial! Ketika ketertarikan jasmaniah dan jiwani ini terlembagakan ke dalam pernikahan, ceritanya menjadi lain. Kita harus berhadapan dengan yang baik dan yang buruk dari pasangan. Dua Garis Biru (2019) karya Ginantri S. Noer sendiri cukup detil dalam memaparkan kompromi pasangan muda yang terjebak dalam lembaga pernikahan. Tubrukan nilai-nila agama, tradisional, dan …

Dua Garis Biru: Akselerasi Kedewasaan Read More »

Inter Asia Cultural Studies Society Conference 2019 di Kota Dumaguete

Kereta pre-loved. Mobil beriringan menunggu giliran saat jam sibuk. Lebar jalanan yang hanya dua lajur. Kota-kota pinggiran Manila terkoneksi sekadarnya. Pemandangan ini berbeda 360 derajat dengan Kota Dumaguete yang terletak di kawasan Negros Oriental, Filipina. Jalanannya kecil tanpa lampu merah. Pelabuhan penghubung dengan Pulau Apo dan Pulau Siquijor yang terkenal dengan pantai pasir putih. Dan …

Inter Asia Cultural Studies Society Conference 2019 di Kota Dumaguete Read More »

Catatan dari 13th Asian Cinema Studies Society Conference

“Di era globalisasi, para pembuat film makin jeli untuk mengindikasikan masalah dan isu-isu yang lebih global,” begitulah ujaran Prof. Sheldon Lu selaku pembicara utama (keynote speaker) dalam  13th Asian Cinema Studies Society Conference. Konferensi ini berlangsung pada tanggal 24 – 26 Juni 2019 di LASALLE College of The Arts, Singapura. Adapun tema besarnya adalah “the …

Catatan dari 13th Asian Cinema Studies Society Conference Read More »

Tentang Psikoanalisis dan Jacques Lacan

Tulisan sederhana ini ditulis pada 6 Agustus 2014. Saat itu saya sedang berusaha mengingat secara mudah konsep-konsep Psikoanalisa Lacanian yang bagi pemula ternyata cukup rumit. Berikut perkenalan saya dengan Psikoanalisis Lacan.

Estetika Film Indonesia: Belajar Dari yang Klasik

Estetika Film Indonesia: The Teng Chun Pada tahun 2016 lalu, saya berkesempatan untuk melihat film dari masa kolonial di Sinematek Indonesia. Film tersebut berjudul Tie Pat Kai Kawin karya The Teng Chun, dibuat pada tahun 1935. Sebelum membuat Java Industrial Film, yang tercatat sebagai studio pertama di Hindia Belanda yang fokus pada film cerita, The …

Estetika Film Indonesia: Belajar Dari yang Klasik Read More »

Ave Maryam di Mata Kami

Puitika Desain dalam Ave Maryam karya Ertanto Robby. Bagi untuk penonton yang telah terbiasa dengan estetika instagram dan foto-foto Kinfolk, film ini seperti penyegar mata di kala bioskop Indonesia dibanjiri oleh film-film dengan pergantian gambar cepat dan condong menggunakan warna sehari-hari.

Benyamin Sueb dalam Enam Film Nawi Ismail yang Wajib Kamu Tonton!

Ngobrolin Benyamin itu kagak pernah ada habisnya! Ada saja hal-hal dari karyanya yang masih kontekstual hingga sekarang, Mau mengulik performatifitasnya hayuk! Mau membedah lirik dan musiknya juga oke! Atau mau ngomongin Benyamin Sueb membuat film? Cara memulai pembahasan Benyamin tentu bisa dimulai dari mana saja, termasuk lewat film komedi yang ia bintangi. Menurut Pak David …

Benyamin Sueb dalam Enam Film Nawi Ismail yang Wajib Kamu Tonton! Read More »

Politik Bahasa ‘Kita’ dan Betty Bencong Slebor

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman melaporkan situasi yang menurutnya menarik. Teman saya mengikuti diskusi seni rupa di daerah Jogja Selatan. Dalam grup Whats App, ia berkata bahwa pemateri diskusi memilih menggunakan kata ‘we’ untuk mengganti ‘he’ or ‘she’. Pemateri yang berasal dari benua Amerika ini, menurut saya, sadar dengan pemilihan kata sebagai pernyataan politis. …

Politik Bahasa ‘Kita’ dan Betty Bencong Slebor Read More »

Lisabona Rahman – What They Don’t Talk About When They Talk About Film Restoration

Sedari Ashar, mendung menggelayut di kawasan Sleman. Hujan kadang turun deras, kemudian gerimis tipis-tipis menjelang pukul lima. Nada pemberitahuan di ponsel saya berbunyi. Tertulis bahwa Lisabona Bona dan Naomi Srikandi telah sampai di salah satu mall kawasan Sleman. Saya mempercepat laju sepeda motor, melewati jalan tikus Maguwo-Babarsari-Ambarrukmo. Sesampainya di tempat terjanjikan, mbak Lisa dan mbak …

Lisabona Rahman – What They Don’t Talk About When They Talk About Film Restoration Read More »

Sumba From Java: Notes on Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya Films

At a glance, Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya depict Sumba as lacking – there is no certainty regarding to the law. They use different narratives and approaches to tell Sumba condition. Nugroho emphasizes on the Sumba who have two Name-of-the-Fathers, two kinds of laws, the tradition and the state. Letter for an Angel …

Sumba From Java: Notes on Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya Films Read More »

No Comedy in Milly & Mamet the Movie

Milly & Mamet offers Instagram feeds. The way Ernest Prakasa, the director, chose the properties and its color, all black in the office, and image of food menu, all of them are common now. The references are Instagrasmism and K-pop video. Is this an attempt by Ernest, who wants to translate visual phenomena on social media? Did he just only celebrate Instagram’s aesthetic?

Tidak Ada Komedi dalam Milly & Mamet

Instagram feed terlintas setelah melihat keseluruhan rupa Milly & Mamet (2018). Pilihan properti, warna rumah, ruangan serba hitam milik anak konglomerat, dan cara kamera mengambil makanan merupakan rupa yang awam dijumpai sekarang ini. Kesan instagramisme dan video klip K-pop begitu kuat. Apakah ini upaya Ernest Prakasa selaku sutradara yang hendak menerjemahkan fenonema rupa di media sosial? …

Tidak Ada Komedi dalam Milly & Mamet Read More »

Happy Holiday, Fellas!

“Can’t bring back time. Like holding water in your hand.”  ― James Joyce, Ulysses Jadi ceritanya, bulan November lalu, saya tertantang untuk menulis mengenai salah satu sutaradara penting di era ini. Mulailah petualangan saya menyaksikan program retrospeksi di salah satu festival yang mengawinkan film “independen” dan “komersial” di Yogyakarta. Terakhir kali saya datang ke festival film ini …

Happy Holiday, Fellas! Read More »

Suzzanna: Ketika Horor jadi Komedi

Suzzanna Bernapas dalam Kubur berusaha mendekati tahun 1989 sebagai latar waktu cerita. Ada banyak hal yang hendak disampaikan oleh film ini. Pertama, melalui pembangunan latar tempat yang disesuaikan dengan era 1980-an, ia berusaha membawa penonton pada sisi nostalgia. Kedua, penghalusan mengenai konsep ‘sundel bolong’, menghilangkan sundal sebagai akar kelahiran hantu perempuan ini. Ketiga, penghilangan negara …

Suzzanna: Ketika Horor jadi Komedi Read More »