Site Overlay

Lisabona Rahman – What They Don’t Talk About When They Talk About Film Restoration

Sedari Ashar, mendung menggelayut di kawasan Sleman. Hujan kadang turun deras, kemudian gerimis tipis-tipis menjelang pukul lima. Nada pemberitahuan di ponsel saya berbunyi. Tertulis bahwa Lisabona Bona dan Naomi Srikandi telah sampai di salah satu mall kawasan Sleman. Saya mempercepat laju sepeda motor, melewati jalan tikus Maguwo-Babarsari-Ambarrukmo. Sesampainya di tempat terjanjikan, mbak Lisa dan mbak Naomi sudah duduk manis sembari minum teh. Saya pun memesan teh, tetapi yang lebih kekinian yakni Thai Tea dengan mutiara hitam di dalamnya.

Lisabona Rahman dulunya merupakan kritikus film. Saat ini ia fokus pada kerja preservasi dan restorasi. Film yang pernah Lisabona Rahman restorasi diantaranya: karya Usmar Ismail seperti Lewat Djam Malam (1954) dan Tiga Dara (1957); serta karya Asrul Sani, Pagar Kawat Berduri (1961). Kehadiran mbak Lisa di Yogyakarta masih terkait dengan proyek yang ia organisir yakni Cipta Media Ekspresi. Mbak Naomi yang turut menemani juga termasuk bagian dari proyek tersebut.

Usmar Ismail disebut sebagai Bapak Film Nasional. Hari pengambilan gambar pertama untuk film Darah dan Doa yakni 30 Maret 1950, diperingati sebagai Hari Film Nasional. Lewat Djam Malam mendapatkan piala citra pada perhelatan Festival Film Indonesia pertama pada tahun 1955. Film ini berbagi sebagai film terbaik dengan karya Lilik Sudjio berjudul Tarmina (1954). Dewan juri menganggap Tarmina sebagai film terbaik, namun kritikus film kala itu lebih menganggap Lewat Djam Malam yang terbaik.

Dalam obrolan santai namun dengan konten serius ini, saya dan Lisabona Rahman lebih banyak membicarakan mengenai kondisi lembaga arsip film. Selain itu, rentannya pekerjaan di dunia seni dan kemungkinan yang bisa dinegosiasikan ke depan juga kami bahas. Ketika membicarakan arsip selalu ada percikan api kegembiraan. Mengulik film lama adalah mendekati hal-hal yang telah membentuk pemahaman kita selama ini. Oleh sebab itu, proses penyelamatan dan pengorganisasian arsip menjadi sangat penting karena ia menjadi satu penanda kebudayaan kita sebagai bangsa Indonesia. Berikut hasil obrolan kami pada sore itu, di tanggal 1 Maret 2019.

Mbak Lisabona Rahman termasuk generasi X yang pernah merasakan pemerintahan Orde Baru, menyaksikan Reformasi. Sebenarnya yang aku lihat, yang suka bermain dengan arsip itu kebanyakan dari generasi kalian. Apa yang mendorong kalian bergerak ke arah pengarsipan. Ada Mbak Lisa di film. Ada mbak Farah di seni rupa. Bang Hafiz dari Forum Lenteng juga yang lebih condong ke pameran arsip, menyebarkan ke publik.

Aku tidak pernah merefleksikan soal generasi. Namun ada satu hal yang menurutku bisa menjadi jawaban atas pertanyaanmu. Itu soal peralihan teknologi. Pada generasi kita ada peralihan dari analog ke digital. Banyak dokumen masa lalu yang lebih bisa diakses sehingga kita tahu keberadaannya. Mungkin kita jadi punya motivasi untuk lebih banyak mengkaji. Lalu ketika kita ingin lebih banyak mengkaji, kita baru sadar penyimpanannya buruk, organisasi datanya buruk dan mungkin juga yang namanya arsip itu kan baru bisa hidup kalau ditafsirkan. Tetapi interpretasinya tertutup, kurang demokratis. Pada titik ini, mungkin merujuk ke motivasi pribadi saya juga untuk melihatnya lagi.

Mbak Lisabona Rahman dulu kritikus film. Kemudian menjadi Direktur Program Kineforum, belajar pengarsipan, dan sekarang fokus ke preservasi dan restorasi. Dari perjalanan itu, aku melihat banyak hal yang bisa dibagikan ke generasiku, generasi Y. Misalnya saja akhir tahun 2018, Mbak Lisabona Rahman membuat dua lokakarya penulisan kritik film. Apa yang mendorong untuk melakukan itu semua?

Saya sebenarnya malu kalau masih disebut kritikus film. Tulisan terakhir saya, tahun 2013, tentang What They Don’t Talk about When They Talk About Love karya Mouly Surya. Saya sebenarnya menikmati membuat kritik film. Namun karena saya tidak berangkat dari sekolah film, jadi ada banyak hal yang saya pelajari sembari jalan yaitu dengan membaca dan berdiskusi dengan sesama kritikus dan pembuat film. Sialnya, kita tidak bisa hidup dari situ. Saya kemudian memilih karir lain. Kebetulan yang sangat menyenangkan, saya ditawari untuk mengelola Kineforum. Sebenarnya sekarang ada kabar yang menyedihkan. Gedung untuk Kineforum Graha Bhakti akan dirubuhkan oleh Pemda DKI. Padahal ini monumen, penanda bahwa dulu pemerintah dan sipil pernah bersinergi pada awal 1970-an. Sekarang sejarah seperti mau di-reset. Karena alasan inilah saya berhenti jadi kritikus film. Dari situ, jalan terbuka. Ada jaringan baru yang terbentuk dari sana.

Baca wawancara Jurnal Footage ketika Lisabona Rahman masih menjadi Direktur Program di Kineforum.
Lisabona Rahman
Lisabona Rahman dan Naomi Srikandi saat ini aktif di proyek Cipta Media Ekspresi, Kehadiran mbak Naomi malah memicu saya untuk membuat dialog mengenai kelindan dunia seni pertunjukan dengan film Indonesia.
Masih tentang lembaga pengarsipan. Saya melihat contoh lembaga seperti Sinematek dan PDS HB Jassin, itu kan sinerginya dapat. Tetapi ketika tokoh sentral berpulang, lembaga ini jadi terombang-ambing. Imbasnya ke generasi sekarang, setengah mati mau akses arsip. Selain itu, saya juga melihat inisiasi dari warga untuk menambah dan mengelola arsip dengan lebih baik. Tetapi lagi-lagi kendalanya sistem yang di pemerintahan tidak beres. Misalnya Kineforum yang masih bergantung pada Pemprov DKI. Kalau kebijakan berubah, ruang itu juga rentan. Sebenarnya apa yang bisa kita lakukan ketika melihat keadaan yang demikian?

Kalau melihat khusus arsip film saja terutama di Sinematek Indonesia, kita harus ingat bahwa ia dibuat ketika sumber dana terbatas. Jaringan pemerintah yang paling kuat. Saat saya mulai kuliah, saya melihat ada kemungkinan terutama dari sektor privat. Tetapi lebih penting dilihat, sebenarnya di negara kita ini dana publik yang lebih tidak berkelanjutan. Ini bukan kesimpulan untuk semua bidang. Di film sendiri, institusi di dalamnya tidak stabil karena dioper dari satu lembaga ke lembaga lain. Saya sendiri mengumpulkan proposal Pak Misbach, dari PKJ hingga tahun 1994. Di situ masa stabilnya hanya sampai akhir tahun 1980-an. Krisisnya sudah lama sekali. Kemudian masalah organisasi. Secara mandiri ia tidak bisa menerima bantuan dana selain dari pemerintah. Tentu tidak ada formula ideal yang pasti jalan dan sukses.

Di seluruh dunia, institusi arsip film itu rentan. Sewaktu saya kuliah dan mau magang di EYE Film Institute Netherlands, mereka tidak bisa menerima saya karena pergantian kebijakan. Mereka sampai minta maaf karena mereka tidak tahu nasib EYE di tangan pemerintah dari sayap kanan. Sedangkan Sinematek, meski tertua tapi riwayat organisasinya tidak stabil. Begitu Pak Misbach pensiun, pelan-pelan hancur. Secara organisasi mereka terlalu tertutup dan tidak ada orang di dalam struktur yang memiliki gagasan untuk mengurus arsip film. Sialnya, di generasi kita, ada arsip film yang salah diorganisir. Tetapi, saya mendengar kabar baik, bahwa UU Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam. Salah satu perubahannya adalah menunjuk Perpustakaan Nasional sebagai repository nasional. Ini bisa positif. Nantinya perubahan ini bisa dilihat lagi. Saya tentunya sangat berharap. Contohnya saja di Amerika, repository ada di Library of Congress.

Sinematek Indonesia didirikan pada tahun 1975 oleh Haji Misbach Yusa Biran. Lebih dari 2500 judul film tersimpan. Sinematek menjadi arsip film pertama di Asia Tenggara.
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin didirikan pada tahun 1976. HB Jassin, sastrawan sekaligus kritikus sastra, membangun pusat arsip ini melalui kedekatannya dengan sastrawan sehingga mereka secara sukarela mau memberikan dokumentasi perjalanan karya mereka.
Kedua lembaga pengarsipan ini didirikan saat Ali Sadikin masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Bagaimana perasaan mbak Lisabona Rahman ketika restorasi Lewat Djam Malam (1954) sampai ke publik pada tahun 2012 lalu?

Waktu itu saya merasa bahwa ada satu peluang yang terbuka. Kalau angkatan saya jatahnya melihat film yang compang-camping, barang yang usang. Ada Hafiz dan Diki juga yang melihat kembali film-film di masa lalu dan menyebarkan pengetahuan mengenai itu. Saya optimis sekali generasi di bawah saya bisa mengalami karya ini dengan kondisi yang lebih baik secara teknis dan kuratorial. Boleh dibilang optimisme itu sekarang meredup. Tetapi saya tetap yakin, setidaknya setiap tahun ada satu film yang bisa direstorasi oleh pemerintah.

Baca Tentang Ulasan Tie Pat Kawin di Jurnal Footage.

Sekarang Lisabona Rahman sedang mengerjakan film Aladin dan beberapa film sebelum Kemerdekaan. Itu termasuk Tie Pat Kai kawin (The Teng Chun, 1935)?

Niatnya begitu tapi Aladin belum selesai. Persis hari Rabu yang lalu saya menyelesaikan restorasi audionya. Mengapa lama sekali? Karena saya tidak bisa mengerjakan itu full time. Kalau Lewat Djam Malam, dulu disponsori National Museum of Singapore dan masuk ke lab profesional. Proses film selanjutnya, 3 Dara dan Pagar Kawat Berduri, semuanya diserahkan ke lab profesional. Saya mengerjakan restorasi Aladin itu paruh waktu. Dari akuisisi digital, scanning, membersihkan, restorasi. Kami hanya bertiga dan baru belajar sebagai operator. Saya sendiri memiliki keahlian teoritis mengenai pengarsipan film dan juga keahlian teknis untuk merekonstruksi film. Biasanya proses rekonstruksi dipakai untuk memahami kelengkapan film dan versi benarnya.

Kalau keahlian teknis sebagai scanner, digital cleaning, digital operator, saya ikut pelatihannya tapi tidak terasah. Kemudian ada manipulasi gambar. Misalnya kalau di film tua ada debu, kita harus memperbaiki. Proses ini seperti tambal-menambal, dengan pixel buatan seolah ia mirip sesuai dengan warna yang dituju. Prosesnya seperti ketok magic. Kita hanya bisa menghasilkan ilusi bahwa film ini bisa dipulihkan. Kami kerja dengan membagi porsi per-reel. Setiap hasilnya kita akan review. Harapan saya, film ini akan segera selesai. Tapi selama proses ini, akses saya ke film-film di generasi yang sama tidak sama lagi. Mungkin juga Sinematek Indonesia semakin membuat akses tidak jelas. Dana juga tidak berkelanjutan.

Golden Arrow atau Panah Emas merupakan perusahaan film yang dulunya berkantor di Jln. Senen Raya 43, Jakarta. Perusahaan ini didirikan oleh Wu Chun (sumber: Aneka No. 15 tahun II, 20 Juli 1951). Film yang diproduksi di antaranya: Aladin, Dendam dan Asmara, Meratap Hati, dan Tiga Saudari. Salah satu bintang kenamaan perusahaan ini adalah Abdul Hamid Arif dengan film Kisah dan Kenangan dan Bermain Api. (sumber: Majalah Aneka, Nomor 25 tahun III, 1 November 1952 ditulis Wim Umboh).
Lisabona Rahman fokus ke Film Aladin

Proses restorasi Aladin sendiri bagi saya sangat menarik. Di sini tidak hanya teknis, tetapi ada juga sisi risetnya. Kita harus mengerti konteks produksi film itu. Kita bisa mempertanyakan fakta-fakta yang given. Bisa kita konfirmasi dan koreksi. Seperti Aladin, ternyata yang saya pegang bukan Aladin tahun 1948. Setelah kami riset, ternyata ini Aladin tahun 1953. Artinya setahun sebelum Lewat Djam Malam dan tiga tahun setelah Darah dan Doa. Kalau Umi masih ingat, dulu ada perdebatan dinamis mengenai buat apa kita bikin film. Kata Usmar, film harus membicarakan kesadaran kebangsaan dan film bukan barang dagangan. Film dagang ditempelkan dengan stigma rasisme. Berarti saya mendapatkan bukti bahwa inilah film yang diomel-omelin sama Usmar Ismail.

Saya jadi penasaran, film seperti apa sih yang disebut film komersil dan dibuat sama orang Cina. Tetapi begitu dilihat kembali, film ini sangat menarik. Judulnya saja Aladin, dibuat oleh orang dengan latar belakang teater hiburan yang campur-campur. Karakter utama Hamid Arif, yang jadi Ibu dan Tuan Puteri ternyata Indo. Bagi saya, jalurnya Usmar Ismail itu puritan. Justru yang komersil ini plural dan dinamis. Produser Cina, ceritanya Timur Tengah, aktor-aktornya campuran ada yang Jawa dan Indo, musiknya ada Jazz, klasik, dan cenderung ke Melayu dan gambus. Filmnya seperti opera, masing-masing karakter punya lagu khusus di film ini. Saya jadi membayangkan bahwa ada satu orkestra penuh waktu mengerjakan musik untuk film ini. Stigma dari pendahulu kita seperti menjebak. Padahal film ini menarik, dinamis, dan lebih progresif dari yang saya bayangkan. Walaupun dia dituduh menjual impian, dia justru punya formulasi pesan moral yang lebih universal.

Aladin diproduksi oleh Golden Arrow. Saya belum menemukan siapa sutradaranya. Datanya belum stabil. Semua data yang beredar di internet, dan bersumber dari Sinematek, harus dikonfirmasi ulang. Dari satu kasus ini, saya menemukan adanya ketidakakuratan. Kalau pondasi data tidak akurat, berarti penulisan mengenai sejarah Indonesia bisa dibongkar kembali. Kita bisa lihat filmnya langsung, bisa ke Perpusnas, dan bisa melihat arsip di Belanda. Akan ada banyak informasi yang baru. Seperti penelitian Dafna Ruppin tentang pemutaran film pertama kali tahun 1896. Banyak yang bisa dieksplorasi.

Dafna Ruppin merupakan peneliti Belanda dengan disertasi berjudul The Komedi Bioscoop: Early Cinema in Colonial Indonesia. Berdasarkan temuan Dafna, kehadiran gambar bergerak di Hindia Belanda justru dimulai pada tahun 1896 di Gedung Teater Batavia (kini Gedung Kesenian Jakarta). Versi H. Misbach Yusa Biran dan sesudahnya, gambar bergerak pertama kali hadir pada awal 1900-an, ketika rekaman Inagurasi Ratu Wilhelmina ditunjukkan ke publik.
Kalau proyek Bintang Ketjil (1963) dari Wim Umboh?

Saya belum bisa berbagi lebih detail. Tetapi film ini menarik karena ada dua kopian film dan dibuat ketika situasi politik sedang memanas. Dari film ini, bisa dilacak kalau ternyata dulu Wim Umboh sempat bekerja di Golden Arrow atau Panah Emas. Pemain film Aladin ada beberapa yang muncul di Bintang Ketjil.

Terakhir, film baik menurut Lisabona Rahman. Kemudian komentar tentang industri film sekarang di mana anak-anak muda lebih ingin jadi sutradara atau festival organizer. Bagaimana dengan fenomena film remake yang sekarang menjamur?

Mudah-mudahan jawaban saya cukup bijaksana dengan pertimbangan banyak faktor. Tenaga kreatif kita, meskipun tumbuh pesat tapi ada yang kurang. Penulis skenario yang baik saja sedikit. Menulis naskah sendiri prosesnya panjang dan memakan sumber daya. Problem selanjutnya adalah hak eksploitasi untuk film lama tidak jelas. Kalau kita menonton Netflix dan Amazon, kita melihat film yang proses management hak ciptanya kompleks.

Di Indonesia sendiri itu tidak berjalan baik. Riset hak ciptanya bisa sangat kompleks. Beruntung kalau ketemu. Sewaktu Orde Baru, hak cipta bisa dijual berkali-kali. Aku bisa jual ke Umi, ke Naomi, dan bisa juga ke Diki. Lima puluh tahun kemudian, ketika mendengarkan hak cipta mau dijual, pasti ricuh. Saya merasa bahwa banyak rumah produksi film sebetulnya mewarisi, dan mereka tidak bisa investasi atau tidak mau membereskan kekusutan hak cipta. Akhirnya buat formula remake. Mengandalkan sentiment dan kedekatan penonton dengan tokoh-tokohnya. Tidak sesederhana tidak mau mikir. Supaya modal terus berputar, buatlah yang baru. Penegak hukum untuk hak cipta juga harus tercipta dan masyarakat juga jangan mau-mau aja menerima aja karya yang semacam ini. Kita bernostalgia dengan cara yang terlalu pragmatis.

Kusutnya hak cipta tercermin ketika Syamsul Fuad penulis Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972) melayangkan gugatan ke rumah produksi Falcon Pictures. Film Benyamin Biang Kerok (2018) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dianggap melanggar hak cipta. Namun menurut Falcon sendiri, hak cipta sudah beres. Dari kasus ini, kemungkinan bahwa hak cipta film tersebar dan dimiliki oleh Syamsul Fuad si penulis naskah, pewaris karya dari Benyamin Sueb selaku aktornya, ataupun rumah produksinya. Beberapa contoh film remake di blog ini:
1. PSP Gaya Mahasiswa
2. Suzzanna: Bernapas dalam Lumpur

Belum lagi ada faktor lain. Misalnya kalau orang ini mau mengeksplorasi film aslinya. Untuk memulihkan film ini dalam keadaan untuk layak tonton, pasti susah. Investasi teknologi dan SDM mahal. Tentu tidak sanggup. Dari penelantaran arsip, akhirnya macet juga ekonomi industri. Yang dianggap laku, jelas yang masih diingat. Untuk mengatasi pengulangan semacam ini, harus ada inkubator yang aman untuk kreatifitas dan penelitian. Nyatanya, penyeimbang itu tidak ada.

Kalau tentang Tiga Dara?

Saya selalu menemukan hal-hal baru di Tiga Dara. Saya baru sadar bahwa sekuen terakhir yang di Bandung, ada adegan Bapak keluar. Itu Usmar Ismail jadi cameo. Saya temukan fakta ini ketika tahun lalu saat menonton dengan teman-teman programmer. Ini mungkin kekurangan saya atau saya terlalu sibuk dengan hal lain. Saya berpikir, kok bisa Usmar muncul di film yang tidak dia sukai, yang katanya terlalu komersil dan tidak nasionalis. Paradoks. Aneh menurut saya tapi ini menarik.

Leave a Reply