Festival Film Online: Ucifest, Visions du Reel, We Are One

Selama masa pandemi yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan terhitung sejak Maret 2020, aktivitas menonton film saya banyak bergantung pada jaringan internet dan laptop. Yang paling sering saya lakukan adalah menonton film untuk materi perkuliahan dan objek penelitian. Namun selain itu, saya berkesempatan menonton film-film dari beberapa festival yang akhirnya memilih untuk daring. Oleh sebab itu, artikel dalam blog ini, saya tujukan sebagai catatan per tiga bulanan dan rangkuman singkat tentang pengalaman menonton festival daring pada tahun 2020 ini. 

Ucifest

UMN Animation and Film Festival, biasa disingkat sebagai Ucifest saja, merupakan festival tahunan yang dikelola oleh mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara. Festival yang diadakan pada tanggal 21 – 22 April 2020 ini merupakan hasil pembelajaran mahasiswa film UMN yang mengambil mata kuliah Festival Film and Theory. Mulanya, Ucifest akan diberlangsungkan di beberapa tempat di Tangerang dan Jakarta. Namun, saat pandemi mulai menyerang, panitia dengan sigap beralih menjadikan acara ini dalam format daring. Penonton yang telah mendaftar akan mendapatkan tautan untuk film. Untuk menjaga keamanan dari tindakan pembajakan, panitia hanya membuka link pemutaran sesuai jadwal. Dalam festival ini, saya terlibat sebagai kurator untuk pemutaran Film Eksperimental dari Asia Tenggara. Karena festival ini adalah festival dari mahasiswa untuk mahasiswa/pelajar, penonton bisa menjumpai bakat-bakat dari pembuat film muda. Saya sendiri lupa judul film apa saja yang telah saya tonton di Ucifest, tetapi saya menyempatkan untuk menonton film dari mahasiswa IKJ dan ISI Yogyakarta. Meskipun hanya berlangsung selama dua hari, namun berdasarkan data Ucifest, setidaknya ada lebih dari 4.000 pendaftar untuk keseluruhan program festival.

Link kuratorial Film Eksperimental Dari Asia Tenggara

International Film Festival Nyon Visions du Reel

Festival dari Swiss ini berdiri sejak tahun 1969. Biasanya film-film yang masuk dalam program Vision du Reel akan diputar di bioskop maupun ruang-ruang publik di kota Nyon. Rencananya, festival ini akan berlangsung pada tanggal 24 April hingga 2 Mei 2020. Namun, karena adanya pandemi, festival diadakan melalui daring sejak tanggal 17 April 2020. Batas jumlah penonton untuk setiap film yang diputar di festival hanyalah 500. Hanya butuh beberapa jam supaya kuota penonton untuk film dalam kategori International Medium Length & Short Film Competition terpenuhi sehingga saya tidak bisa mendapatkan tiket menonton. Saya pun hanya sempat menonton beberapa film seperti:  The Plastic House (Allison Chhorn, 2019), On a Clear Day You Can See the Revolution From Here (Emma Charles, Ben Evans James, 2020) yang ada pada program Burning Lights International Competition; Purple Sea (Amel Alzakout, Khaled Abdulwahed, 2020) dalam International Feature Film Competition; dan Of Land and Bread (Ehab Tarabieh, 2019). Pilihan menonton saya cukup random. Saya hanya menonton yang masih tersedia saja ketika saya memiliki waktu luang dan akhirnya hanya empat film dari puluhan film inilah yang bisa saya tonton. 

Link Ulasan Film: 

The Plastic House From Allison Chhorn

Purple Sea: A Story from the Mediterranean Sea

On Collaborative Practice: Of Land and Bread and akumassa

Whose Gaze: On a Clear Day You Can See the Revolution From Here

We Are One a Global Film Festival

Festival yang berlangsung di kanal Youtube dari tanggal 29 Mei hingga 7 Juni ini merupakan program yang diinisiasi oleh 21 festival film dari seluruh dunia. Selain memutarkan film yang telah diputar pada tahun 2019 lalu, We Are One a Global Film Festival juga memiliki program penggalangan dana untuk menanggulangi wabah Covid-19. Film yang banyak saya tonton berasal dari program Annecy International Animation Film Festival dan BFI London Film Festival. Saya menonton film seperti: And Then The Bear (Agnes Patron, 2019), Bird Karma (William Salazar, 2019), Cerulia (Sofia Carrillo, 2017), The Distance Between Us And The Sky (Vasilis Kekatos, 2019), Egg (Michael J. Goldberg, 2020), Masterpiece (Runyararo Mapfumo, 2018), The Tear’s Thing (Clémence Poésy, 2019), Crazy World (Nabwana, 2019), Eeb Allay Ooo (Prateek Vats, 2019), dan Shiraz: A Romance of India (Franz Osten, 1928). Penayangan film di kanal Youtube ini terbatas. Film dibuka untuk 24 jam saja. Karena film mulai ditayangkan pada pukul 19.00 WIB dan sistemnya menggunakan live Youtube, saya tidak bisa mengeksplor film-film yang lain. Sedangkan untuk bisa binge watch, rasa-rasanya waktu penayangan We Are One dan jam biologis saya tidak cucok meong. Selain pemutaran film, We Are One juga menghadirkan program panel yang diisi oleh para pelaku perfilman seperti Jackie Chan, Ang Lee, Claire Denis, dan Guillermo del Toro.

Link ulasan film: 

Lalu apa enaknya menonton film festival secara daring? Sebagai penonton saya bisa melihat beragam film teranyar yang disajikan oleh festival film terkemuka dari penjuru dunia. Saya tinggal duduk, kemudian memilih. Dari situ, saya belajar tentang isu-isu terkini yang disajikan oleh “festival besar” dan wacana apa yang hendak mereka sajikan. Kemudian saya juga melihat film Shiraz: a Romance of India, film yang diproduksi tahun 1928 dan telah direstorasi oleh BFI London.

Namun, di balik aksi tinggal memilih ada beberapa konsekuensi yang mengikutinya. Tiga festival online yang saya ikuti tersebut menayangkan film dengan sangat terjadwal. Saya tidak bisa malas-malasan, menunda-nunda. Kemudian karena saya menonton film tersebut melalui laptop, ada gangguan kecil, entah dari diri saya sendiri atau dari faktor luar (seperti bocah yang minta dikeloni misalnya). Fokus untuk menonton menjadi berkurang karena memang saya tidak mengkondisikan aksi menonton festival ini seperti saat saya menonton film di black box, bioskop. Tentunya ini menarik karena dengan pengalaman ini, kita masih bisa mendiskusikan lebih jauh: apakah masih relevan bila menganggap sinema sebagai aparatus? Karena toh pada akhirnya, penonton bisa memilih: memilih untuk main hp sembari nonton, atau memilih untuk komen di youtube live (contoh kasus di pemutaran film We Are One), atau memilih tidur sembari laptop terbuka dan begitu terbangun kita lupa sudah menonton apa saja. 

English

During the pandemic that has lasted more than three months from March 2020, my movie-watching activity depends a lot on the laptop and internet connection. Besides watching films for research and lecturing purpose, I have an opportunity to watch several film festivals that go online. Therefore, I refer to this article in this blog as a quarterly note and a brief summary of the experience of watching the online festival in 2020.

Ucifest

UMN Animation and Film Festival, commonly abbreviated as Ucifest, is an annual festival that is managed by students of Universitas Multimedia Nusantara. The festival which was held on April 21-22, 2020 was the result of learning from UMN film students who took the Festival Film Theory and Practice Course. Initially, Ucifest will be held in several places in Tangerang and Jakarta. However, when the pandemic began to attack, the committee swiftly switched to making this event online. Viewers who have registered will get a link for the film. To maintain security from piracy, the committee only opens playback links on schedule. In this festival, I was involved as a curator for the screening of Experimental Films from Southeast Asia. Because this festival is a festival of students for students, the audience can find the talents of young filmmakers. I myself forgot the title of any film that I watched on Ucifest, but I took the time to watch a film from IKJ and ISI Yogyakarta students. Although it only lasted for two days, but based on Ucifest data, there were at least more than 4,000 registrants for the entire festival program.

Curatorial Links of Experimental Films from Southeast Asia

International Film Festival Nyon Visions du Reel

This festival from Switzerland was founded in 1969. Usually the films included in the Vision du Reel program will be screened in theaters and public spaces in the city of Nyon. This festival will take place on April 24 to May 2, 2020. However, due to a pandemic, the festival is held online since April 17, 2020. The limit on the number of viewers for each film shown at the festival is only 500. It only takes a few hours for a quota the audience for films in the International Medium Length & Short Film Competition category was fulfilled so that I could not get a viewing ticket. I also only had time to watch a few films such as: The Plastic House (Allison Chhorn, 2019), On a Clear Day You Can See the Revolution From Here (Emma Charles, Ben Evans James, 2020) in the Burning Lights International Competition program; Purple Sea (Amel Alzakout, Khaled Abdulwahed, 2020) in the International Feature Film Competition; and Of Land and Bread (Ehab Tarabieh, 2019). My choice of watching is quite random. I only watch what is still available when I have free time and finally only four films out of dozens of films that I can watch.

Film Reviews Link:

The Plastic House From Allison Chhorn

Purple Sea: A Story from the Mediterranean Sea

On Collaborative Practice: Of Land and Bread and akumassa

Whose Gaze: On a Clear Day You Can See the Revolution From Here

We Are One Global Film Festival

The festival which took place on the Youtube channel from May 29 to June 7 is a program initiated by 21 film festivals from around the world. In addition to showing films that were screened in 2019, We Are One a Global Film Festival also has a fundraising program to tackle the Covid-19 outbreak. The films that I watch a lot come from the Annecy International Animation Film Festival and the BFI London Film Festival. I watched films like: And Then The Bear (Agnes Patron, 2019), Bird Karma (William Salazar, 2019), Cerulia (Sofia Carrillo, 2017), The Distance Between Us And The Sky (Vasilis Kekatos, 2019), Egg (Michael J. Goldberg, 2020), Masterpiece (Runyararo Mapfumo, 2018), The Tear’s Thing (Clémence Poésy, 2019), Crazy World (Nabwana, 2019), Eeb Allay Ooo (Prateek Vats, 2019), dan Shiraz: A Romance of India (Franz Osten, 1928). Screening of films on this Youtube channel is limited. The film is open for 24 hours only. Because the film starts airing at 19:00 IWST and the system uses live Youtube, I cannot explore other films. Meanwhile, to be able to binge watch, it feels like the time of airing We Are One and my biological clock does not go well. In addition to film screenings, We Are One also presented a panel program filled with film actors such as Jackie Chan, Ang Lee, Claire Denis, and Guillermo del Toro.

Movie review link:

Then what is the pleasure of watching film festivals online? As a spectator I can see a variety of the latest films presented by leading film festivals from around the world. I just sit, then choose. From there, I learned about the current issues presented by the “big festival” and what discourse they wanted to present. Then I also saw the film Shiraz: a Romance of India, a film produced in 1928 and had been restored by BFI London.

However, behind “you can choose anything you one”, there are some consequences that follow. The three online festivals that I participated in showed the film on a very scheduled basis. I can’t be lazy, procrastinate. Then because I watched the film through a laptop, there was a small disturbance, either from myself or from external factors/ The focus on watching has diminished because I did not conditioning my body and my mind like when I usually did in the black box, in cinema. Surely this is interesting because with this experience, we can still discuss further: is it still relevant to regard cinema as an apparatus? Because after all, the audience can choose: choose to play cellphone while watching, or choose to comment on YouTube live (example of the case in the screening of the film We Are One), or choose to sleep while the laptop is open and when we wake up we forget what we have watched.

BSD, 27 June 2020

xoxo Umi

Leave a Reply