Site Overlay

Ave Maryam di Mata Kami

Secara keseluruhan, Ertanto Robby Soediskam lebih menitikberatkan pada puitika desain. Ave Maryam memang memanjakan mata kita. Apalagi untuk penonton yang telah terbiasa dengan estetika instagram dan foto-foto Kinfolk, film ini seperti penyegar mata di kala bioskop Indonesia dibanjiri oleh film-film dengan pergantian gambar cepat dan condong menggunakan warna sehari-hari. Ada beberapa tembok yang sengaja dipilih supaya visualnya menyenangkan. Selebihnya, Ave Maryam dianugerahi arsitektur biara yang memiliki garis-garis tegas dan minim orang berlalu-lalang.

Baca tentang Instagrammisme dalam Film Indonesia: Milly & Mamet the Movie (Ernest Prakasa, 2018) dan Terlalu Tampan (Sabrina Rochelle Kalangie, 2019)

Saat Ave Maryam dirilis di bioskop pada tanggal 11 April 2019 lalu, linimasa saya dibanjiri pujian untuk film ini. Rata-rata menyasar pada sisi visual, keberaniannya mengangkat kisah cinta antara suster dan pastor, serta elemen sederhana seperti rantang dan susu botol yang memeable. Ketika membaca puja-puji di linimasa tersebut, ekspektasi saya membuncah. “Film religi Katolik pasti main-main dengan simbol,” pikir saya. Apakah memang demikian?

Kehadiran Ave Maryam di jaringan bioskop besar justru memantik saya untuk melihat sejauh mana art film mempengaruhi film Indonesia sekarang. Misalnya saja, Mantan Manten yang rilis 4 April lalu beberapa visualnya juga dipengaruhi oleh art film. Apa yang diambil dan bagaimana ia bertransformasi dengan kultur tradisi yang ada di Indonesia? Namun terlepas dari hal itu, Ave Maryam seperti ingin mengkategorikan dirinya sendiri sebagai film dengan citarasa tinggi. Pilihan musik yang dimainkan Romo Yosef misalnya. Pilihan tempat makan di Spiegel serta kencan dengan latar belakang film sebagai dubbing perasaan Yosef dan Maryam.

Baca Pengaruh Art Film dalam Aruna dan Lidahnya

Harus diakui, Ave Maryam berhasil menggaet orang-orang yang mulanya tidak percaya dengan film Indonesia. Teman-teman saya yang memiliki “mainannya” sendiri (ada yang seni rupa, gim, dan jualan makanan) kemudian meramaikan percakapan di grup Whatsapp hanya untuk membahas film. Sesuatu yang jarang saya temui. Ada perasaan terwakilkan ketika membahas Ave Maryam. Untuk itulah, dalam artikel ini saya akan lebih banyak mengulas komentar teman-teman saya selaku penonton Ave Maryam.

Ave Maryam
Ave Maryam
Ave Maryam
Orang sekarang mah gak hunting sunset tapi tembok! Beberapa gambar yang bisa dikategorikan sebagai, meminjam kategorisasi Lev Manovich, estetika Instagram. courtesy: Summerland
Ave Maryam di Mata Anne

Anne Shakka, akademisi, tampak sumringah menyambut kedatangan saya di warung donat. Saat ini Anne sedang meneliti pengalaman orang-orang melihat patung Bunda Maria. Kami berdua sepakat bahwa Maryam dan Yosef itu bisa dilihat sebagai simbolisasi kisah Bunda Maria dan Santo Joseph. Lebih lanjut, Anne menceritakan kepada saya bahwa kisah suster dan romo yang jatuh cinta di dalam lingkup gereja memang biasa dan banyak ditemukan. Bahkan teman kami dan istrinya menjalin kasih saat mereka masih menjadi frater dan suster. Perihal adegan no judgment, saat para suster tanpa perlu berapi-api menanggapi kisah cinta Maryam dan Yosef, adalah lumrah.

Kemudian Anne dengan berbunga-bunga menceritakan rasa penasarannya mengenai adegan di pantai yang konon katanya disensor. Menurut Mike, junior kami di kampus Ilmu Religi dan Budaya yang saat ini sedang meneliti film Siti dan Turah, adegan di pantai menunjukkan eksplorasi tubuh dua sejoli. Itulah mengapa, adegan selanjutnya, penonton bisa melihat kalutnya Maryam dan tangan Yosef yang gemetar hebat ketika merokok. Tetapi menurut saya, pilihan untuk meniadakan adegan eksplorasi tubuh (kalaupun memang benar ada adegan yang dipotong) itu pas. Ini seperti melihat karya Wim Wenders, Alice in The Cities (1974), saat Ibu Alice dan Philip Winter hendak bersetubuh, gambar langsung ganti. Namun dalam persepsi penonton, gambar tersebut sudah mengindikasikan adanya adegan dewasa. Dalam Ave Maryam sendiri, peniadaan adegan tersebut bisa menyokong pergulatan batin karakternya. Biarlah dosa tersebut hanya Maryam, Yosef, dan Tuhan yang tahu. Penonton mengimajinasikannya saja!

Ave Maryam di Mata Sita

Sita Magfira, kurator muda Jogja, memiliki kekasih yang berprofesi sebagai seniman keramik. Karya seniman ini dipengaruhi simbol dan ajaran Kristen. Sita melihat bahwa visual Ave Maryam, “agakagak wong kar wai esque”. Kemudian, saya dan Sita merefleksikan kenakalan kami yang sungguh tampak cethek  dibandingkan dengan kenakalan Maryam dan Yosef. Mengapa demikian? Karena dalam film ini ajaran Katolik digambarkan sebagai sesuatu yang sangat kuat. Apalagi karakternya suster dan pastor yang memiliki janji mengabdi pada Tuhan. Sehingga, begitu mereka mengingkari janjinya sendiri, rasa bersalah itu tampak begitu besar dan sulit termaafkan.

Aduh mbak, aku bias sih tapi Ave Maryam mengajarkan, “JANGAN SAMPE LAKILAKI GANTENG MENGACAUKAN WHAT-SO-CALLED TUJUAN HIDUPMU!” menangys. Hahaha

Mbak Sita Magfira, Kurator Jogja asal Palu

Begitulah komen receh dari Sita. Tetapi baik saya dan Sita ternyata tertarik pada adegan saat suster makan. Saya menggarisbawahi posisi para suster yang duduk membelakangi kamera, seperti tidak mengijinkan penonton untuk melihat keseluruhan peristiwa yang hadir di sana. Sedangkan Sita melihat adegan ini sebagai penggambaran lukisan The Last Supper karya Leonardo da Vinci. Untuk terakhir kalinya, Maryam bisa makan bersama. Setelahnya, ia pergi menebus dosa dirinya dan Yosef, sama seperti Yesus yang pergi menebus dosa umat.

Ave Maryam di Mata Padmo

Komentar dari Padmo Adi, mantan frater dan ahli gim, justru menjawab pertanyaan saya seputar simbol-simbol yang muncul dalam film. Padmo memuji bagian pengakuan dosa. “Formulasi dialog ‘dosamu diampuni’ itupun memang rumusan liturginya gitu. Tapi dialog nasehatnya gak men-judge sama sekali.” Sebagai mantan frater, tampaknya Padmo merasa bahwa film ini mewakili pengalaman hidupnya.

Saya kemudian bertanya langsung mengenai adegan mimpi, “Maryam membuka jendela bertemu lautan”. Asumsi saya, adegan ini terpengaruh art film, digunakan untuk mengaburkan fantasi dan realitas. Namun menurut Padmo, adegan ini sebenarnya sarat simbolisasi. Padmo menjelaskan bahwa gelora samudera sering menjadi metafora gelora nafsu. Gambar ini referensinya memang tidak ditemukan di Alkitab. Namun kalau kita ingin “memaksakan”, referensinya ada di Perjanjian Lama dan Wahyu. Dalam Perjanjian Lama terdapat versi yang kurang populer bahwa, “Tuhan Allah mengalahkan Leviathan dan monster laut lainnya untuk menghadirkan kosmos.” Sedangkan dalam Wahyu tertulis bahwa Naga berasal dari laut. “Leviathan dan Naga adalah lambang setan, nafsu!” pungkas Padmo.

Ave Maryam (2019)

Apakah ajakan untuk mencari hujan di tengah kemarau adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan keringnya batin Maryam? Romansa Maryam dan Yosef dalam biara mengijinkan penonton untuk melihat rutinitas kehidupan di dalamnya. Detil itu disampaikan tanpa banyak dialog, percayakan saja pada gambar. Keputusan Maryam untuk meninggalkan biara dan Yosef biasa dilihat sebagai upaya untuk membebaskan diri dari fantasi yang sebelumnya ditawarkan padanya.

Sutradara: Ertanto Robby Soediskam | Penulis: Ertanto Robby Soediskam | Produser: Ertanto Robby Soediskam, Tia Hasibuan | Pemeran: Maudy Koesnadi, Chicco Jerikho, Tutie Kirana, Joko Anwar, Nathania Angela, Olga Lydia | Rumah Produksi: Summerland | Durasi: 73 menit

Leave a Reply