Site Overlay

Garin Nugroho: Kucumbu Tubuh Indahku

Saya mengulang Kucumbu Tubuh Indahku karya Garin Nugroho semata-mata untuk menyisir kembali bagian mana yang membuat saya berkeberatan. Pada akhirnya pengalaman tidak berkenan saya tetap ada. Namun di sisi lain ada hal-hal menarik yang justru saya jumpai saat menonton film ini untuk kedua kalinya. Misalnya sensor yang menggunting gambar pantat karakter laki-laki. Padahal saat diskusi di JAFF bulan Desember tahun lalu, Garin selalu bersemangat menceritakan keberhasilannya menangkap estetika lelaki telanjang dengan kamera. Bagaimana perasaan Pak Garin ya saat tahu adegan itu disensor?

Sebagai Aristotelian, saya mengapresiasi niatan Garin Nugroho untuk memunculkan keberagaman Indonesia ke dalam layar. Sayangnya di sisi yang lain, saya merasa ada batasan. Film ini justru membuat diskusi mengenai konsep gender malah semakin terkotakkan, mengulang pemahaman yang maskulin dan feminin tanpa ada upaya untuk mendekonstruksi. Alih-alih mengajak saya sebagai penonton untuk menerima perbedaan identitas mereka yang berada di antara, Kucumbu Tubuh Indahku justru semakin meruncingkan perbedaan itu. Selain itu, gaya Garin bertutur sungguh ke-Bapak-an. Sepanjang film, mata dan telinga saya seperti disusupi ceramah.

KUCUMBU TUBUH INDAHKU Sebagai Rangkuman Proses Berkarya Garin

Cerita mengenai anak laki-laki dari fase anak-remaja-dewasa, memang lazim dalam film Garin Nugroho. Bisa dilacak dari Surat Untuk Bidadari (1994), Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002), dan dokumenter Dongeng Kancil Untuk Kemerdekaan (1995). Sedangkan adegan jari tertusuk jarum yang cukup traumatis bisa dilihat dari Bulan Tertusuk Ilalang (1995). Kehadiran Juno dewasa (diperankan Rianto) sama seperti Ibrahim Kadir dalam Puisi Tak Terkuburkan (2000). Baik Juno dan Ibrahim mengisahkan pengalaman hidupnya. Hanya saja Juno lebih banyak menatap kamera.

Secara sederhana, bisa dilihat titik berangkat Garin Nugroho dalam tiap filmnya adalah fungsi keluarga. Keluarga yang ideal bisa tercermin dari Guru Bangsa. Sedangkan keluarga timpang, imbasnya terlihat dalam beberapa filmnya yang memiliki atmosfer kelam, lebih banyak teror. Dari perspektif Psikoanalisa Lacanian, Garin mampu membuat dua jenis sinema. Pertama, adalah sinema fantasi ketika Garin mampu melucuti cara kerja ideologi. Contohnya Surat Untuk Bidadari dan Opera Jawa. Kedua, Garin juga mampu membuat sinema integrasi, saat hasrat yang menjadi penggerak plot teratasi oleh sebuah suplemen ideologi. Film jenis ini biasanya memiliki akhir cerita yang membuat lega. Misalnya Guru Bangsa, Mata Tertutup, Cinta dalam Sepotong Roti, dan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja.

Baca tentang bagaimana sinema mampu mengungkapkan atau justru menutupi sesuatu yang traumatis. Sumba di Mata Sutradara dari Jawa: Catatan atas Film Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, dan Mouly Surya Atau Jenis sinema Integrasi dalam Film-Film Ody C. Harahap

Lalu bagaimana dengan Kucumbu Tubuh Indahku? Saya sendiri sempat melihat film ini lebih banyak menghadirkan fantasi. Alurnya mengikuti tubuh Juno yang berhasrat, mencari identitas untuk ajeg. Garin selaku penulis dan sutradara, beberapa kali memberikan skenario indah, memberikan janji pada Juno. Kehadiran Sujiwo Tejo; guru tari berkebaya merah; Randy Pangalila (adegan di becak, bertukar bau di ring tinju, dan adegan PDKT yang bisa membuat penonton senyum-senyum); dan Warok, dibuat supaya Juno bisa mendapatkan identitas. Luberan hasrat Juno akhirnya teratasi setelah ia bertemu Warok dan menerima identitasnya yang berada di antara. Sebenarnya akhir yang seperti ini tampaknya cukup berdaya. Namun kembali saya teringat, pemosisian Juno dewasa yang sedang berbicara di depan kamera. Garin pada akhirnya memberikan panggung pertunjukan bagi karakter Juno, tempat yang berada di antara – sama seperti identitas karakternya.

KUCUMBU TUBUH INDAHKU: Tari, Tradisi, Ritual, Komodifikasi

Poster Freddie Mercury ditempel di gubug dan digantung di pasar. Jukstaposisi antara yang modern dan tradisi meluber melalui gambar. Ikon budaya populer yang menghiasi bingkaian adegan sebenarnya lebih banyak digunakan dalam Surat Untuk Bidadari. Namun, bila ingin melihat muasal di film Indonesia, tempelan fantasi dalam dinding sudah bisa dilacak dari film karya Usmar Ismail, Lewat Djam Malam (1954). Dalam film Usmar ini, Abdul Chalid selaku direktur artistik memegang peranan penting dalam membangun mise-en-scene. Misalnya saja dalam adegan saat Iskandar dan Laila berada dalam ruang makan, kolase gambar dari majalah impor ditempel di dinding.

Pembangunan ruang dalam adegan inilah yang menjadi kekuatan film Garin Nugroho. Sebagai penonton kita diajak untuk mengalami. Dalam Kucumbu Tubuh Indahku, pemilihan sebuah desa dengan kontur bebatuan dan bukit, seperti menyokong latar belakang keluarga Juno yang harus berlari dan sembunyi. Meskipun demikian, Kucumbu tampaknya terlalu terburu-buru menyatukan beberapa objek yang mengingatkan penonton pada sesuatu. Latar tempat film ini mengingatkan pada kondisi pedesaan di Gunung Kidul. Sepeda motor yang digunakan adalah plat R. Sedangkan logat Juno dewasa adalah ngapak. Antara Banyumas dan Gunung Kidul itu jaraknya lumayan. Saya sendiri memaklumi “ketimpangan” itu. Mungkin Garin ingin memperlihatkan suatu desa dengan kontur bebatuan, anak-anaknya berjualan jangkrik goreng, dan penduduknya kebetulan memiliki sepeda motor plat R.

Secara konten, Kucumbu Tumbuh Indahku sebenarnya mengingatkan saya pada penelitian Rachmi Dyah Larasati. Dalam bukunya The Dance that Make You Vanish, Mbak Dyah yang pernah menjadi dosen tamu di IRB menyatakan bahwa ada beberapa jenis tari daerah yang hilang ketika tubuh-tubuh penarinya dihilangkan. Latar belakangnya adalah peristiwa 1965 dan imbas dari Perang Dingin. Tari-tarian ini dekat dengan ritus seperti perayaan panen. Sifatnya komunal. Transfer pengetahuannya berjalan organik. Begitu era berganti, jenis tari-tarian ini muncul kembali namun seperti tercerabut dari ekosistem yang melahirkannya. Kini di bawah payung negara dan pendidikan formal, tarian tersebut tampak mempesona namun kehilangan rohnya.

Bila Garin Nugroho fokus pada isu tersebut, misal hanya lewat contoh Lengger dan Reog, sebenarnya cukup untuk membicarakan perubahan tubuh yang menari dan komodifikasi tari. Paparan Garin melalui alur tumbuh kembang Juno sudah cukup jelas. Dengan puitis, Garin memperlihatkan kelahiran gerakan tangan Juno ketika menari yang jelas terinspirasi dari kesehariannya memetik daun singkong. Ditambah dengan adegan surealis, tarian roh yang meyakinkan warok untuk memeluk gemblaknya, Garin menyajikan ritus yang dilalui oleh seorang warok dalam kesenian Reog dalam Kucumbu Tubuh Indahku.

Kucumbu Tubuh Indahku
Juno yang melihat kehidupan dari lubang. Mengintip bisa dilihat sebagai cara untuk mempelajari suatu sistem. Tetapi pada satu sisi aksi ini juga bisa dilihat sebagai cara untuk tidak terjun langsung maupun penundaan. Courtesy: fourcolours films dan Go-Studio.
Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Efesus 5:29

Ketika individu menggunakan bahasa yang ada di masyarakat, ia sudah menjadi subjek. Tetapi pengalaman ini menyisakan sesuatu yang traumatis. Kecemasan muncul saat terpicu sesuatu. Indikatornya adalah tubuh. Karena sejauh ini yang benar-benar bisa menjadi jujur adalah tubuh kita sendiri. Kata-kata hanya mampu mewakili, tidak mengungkapkan semuanya. Supaya individu bisa menjadi subjek maka dibutuhkan Nama-Sang-Ayah atau Hukum, aturan-aturan. Sosok Sang Ibu kehadirannya juga tak kalah penting. Karena dari sosok inilah, subjek bisa menyelami sesuatu yang membuatnya rindu. Ketika bersama Sang Ibu, individu mendapatkan pengalaman bahwa ia memiliki identitas, meskipun kalau ditelaah lagi ini sebenarnya pengalaman salah duga.

Pembahasan singkat tentang Perjalanan Subjek Lacanian.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Garin selalu mengungkapkan melalui negasi, kebalikan. Ia menggambarkan situasi terburuk ketika seorang individu harus mencari Sang Ayah dan Sang Ibu secara mandiri. Penonton kemudian disodori serangkaian skenario dalam tiga babak perjalanan hidup Juno. Kisahnya dimulai dari mana trauma itu lahir dan berakhir saat Juno mampu mengatasi dan berdamai dengan kemelut dalam dirinya sendiri. Kalau saja Garin fokus pada penjabaran perihal trauma tubuh dalam Kucumbu Tubuh Indahku.

Keberatan saya pada Kucumbu Tubuh Indahku justru pada gaya tutur Garin Nugroho. Gambar yang diberikan Garin begitu menghentak, ditambah dengan banyaknya simbolisasi dan ikon yang meluber sepanjang film. Hanya saja, Garin ternyata tidak merasa cukup untuk membiarkan gambar-gambarnya berbicara sendiri. Gugatan Garin pada realitas yang terjadi saat ini seperti berebut ingin didengarkan. Saya seperti mendengarkan seorang Bapak yang sedang bercerita, “dulu itu Bapak begini loh… A, B, C, hingga Z”. Setidaknya saya mencatat beberapa kegelisahan Garin yang ingin dijejalkan dalam 100++ menit.

1. Tari tradisi yang telah Dikomodifikasi

Sudah saya jabarkan di atas.

2. Gugatan Paska Reformasi

Sebenarnya kehadiran dua bawahan Calon Bupati (Teuku Rifnu Wikana) seperti pola dalam pagelaran wayang Ki Hadi Sugito. Humor berisi sindiran terhadap penguasa menyelingi alur yang serius. Karakter komikal yang mencuri layar juga hadir dalam film Garin sebelumnya. Hanya saja, dalam Kucumbu Tubuh Indahku, guyonan itu seperti tak menapak dan kehilangan timing-nya. Sindiran “ini kan jaman bebas” dilancarkan bertubi-tubi melalui pengulangan yang sebenarnya tidak perlu.

3. Kuliah tentang Tubuh dan Trauma

Sudah saya jabarkan di atas.

4. Isu Agraria

Iya. Saya paham. Konflik agraria menyebabkan petani kehilangan tempat untuk tubuhnya. Konflik agraria juga menyisakan luka bagi tubuh para penari. Hanya saja, seharusnya Garin bisa membawa isu ini untuk melampaui “gugatan”. Kemudian saya teringat tulisan Nicholas Rawe. Dalam artikel Post-Salvagism, Rowe menulis bahwa di daerah West Bank dan Gaza muncul koreografi tari. Gerakannya diilhami dari keseharian tubuh-tubuh yang mencoba menghindari ranjau, berjalan berhimpit di sela gedung-gedung usang dan rusak. Garin memang mampu menunjukkan kelahiran gerakan Lengger lewat gambar Juno memetik daun singkong, namun ia belum bisa memberikan gambaran sebuah koreografi yang lahir dari himpitan konflik agraria di tanah Jawa ini.

7. Parenting

Setelah menonton 70% film Garin Nugroho, saya merasa bahwa sebenarnya Garin ingin mewacanakan pembentukan negara dari unit kecilnya yakni keluarga. Bila karakternya tanpa Bapak atau Ibu, ia akan menjalani serangkaian skenario rumit dan pelik. Pernikahan dijunjung tinggi, tujuan paling mulianya adalah memiliki anak seperti Cinta Dalam Sepotong Roti. Tidak ada ruang untuk mendua seperti akhir mengenaskan Artika Sari Devi dalam Opera Jawa. Ketika seorang anak memiliki figur Bapak dan Ibu, maka ia akan menjauhi terorisme seperti karakter Rima dalam Mata Tertutup.

Kucumbu Tubuh Indahku
Butuh banyak alasan supaya penyatuan warok dan gemblak bisa diterima. Penekanan pada pencarian alasan semacam inilah yang membuat kisah hidup dan laki-laki di sekelilingnya tampak kurang luwes. Courtesy: fourcolours films, Go Studio

Pada titik ini saya menaruh simpati pada karakter Juno. Kegelisahan saya sendiri sebenarnya tertuju pada cara Garin mencari alasan untuk menyokong dualitas maskulin | feminin yang sedang berebut dalam tubuh Juno. Mulai dari pergolakan 1965 hingga pada pasangan warok-gemblak. Sepanjang cerita, percintaan Juno tidak dibiarkan berjalan biasa. Terasa tidak mengalir. Kurang luwes. Dua laki-laki memadu kasih memang dihadirkan dalam layar. Namun pada akhirnya Garin membuat tembok, bahwa gambaran semacam itu hanya bisa diterima di ruang yang berada antara fiksi dan realitas.

Saya jadi teringat perkataan Jen di akhir cerita Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives yang penuh humor dan memberdayakan. Jen berkata kepada mantan pegawai kakak iparnya, “Kamu kan biksu. Bukan cowok atau cewek. Jadi gak masalah kamu ganti di dekat kami.” Gurauan semacam ini mampu menyusup secara halus, membiarkan penonton untuk memahami kompleksitas gender dan pergolakan dalam tubuh seseorang. Kemudian bila melihat cerita percintaan queer di sini, Garin belum bisa membuatnya mengalir, tampak luwes di depan kamera seperti yang telah dilakukan Kuldesak. Selain itu, Garin juga tidak mengajak saya sebagai penonton untuk merangkul Juno. Ini jelas berbeda dengan cara Benyamin dalam Betty Bencong Slebor yang mampu mengajak saya merangkul Betty menjadi bagian dari masyarakat. Kucumbu Tubuh Indahku justru semakin meyakinkan saya bahwa Pak Garin Nugroho memang konservatif.

Kucumbu Tubuh Indahku (2018)

Berbekal tas kanvas, wayang Arjuna, dan radio tape, Juno berpindah rumah mengikuti dorongan dari dalam tubuhnya. Terkadang dipacu insting, terkadang terpaksa pergi. Begitu Juno mengenal apa yang berkecamuk dalam tubuhnya, ia tersenyum. Tak ada keraguan saat meninggalkan warok, lelaki yang mengajari menjadi dewasa. Kecemasan itu sirna. Juno akhirnya menjadi performer di atas panggung, memanggil trauma dan pengalaman hidupnya. 

Sutradara dan Penulis Skenario: Garin Nugroho | Direktur Artistik: Ong Hari Wahyu | Penata Kamera: Teoh Gay Hian | Pemeran: Muhammad Khan, Raditya Evandra, Rianto, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila, Whani Dharmawan, Quin Dorothea, Endah Laras, Mbok Tun, Cahwati, Fajar Suharno, Dwi Windarti, Anneke Fitriani | Produser: Ifa Isfansyah, Matthew Jordan | Rumah Produksi: fourcolours films, Go Studio.

Leave a Reply