Site Overlay

Politik Bahasa ‘Kita’ dan Betty Bencong Slebor

Beberapa bulan yang lalu, seorang teman melaporkan situasi yang menurutnya menarik. Teman saya mengikuti diskusi seni rupa di daerah Jogja Selatan. Dalam grup Whats App, ia berkata bahwa pemateri diskusi memilih menggunakan kata ‘we’ untuk mengganti ‘he’ or ‘she’. Pemateri yang berasal dari benua Amerika ini, menurut saya, sadar dengan pemilihan kata sebagai pernyataan politis. Apa yang dia tuju? Bisa jadi perihal kesetaraan gender. Lalu apa hubungannya dengan Betty Bencong Slebor?

Saya pun tergelitik. Mengetik kata kunci “we”, “he”, “she”, dan “gender equality” di mesin pencari Google. Saya kemudian dibimbing ke beberapa artikel. Bila dibandingkan dengan bahasa Perancis dan Jerman yang mengenal nomina maskulin dan feminin, bahasa Inggris sendiri tidak terlalu bias gender. Namun proses perubahan bahasa Inggris menjadi bebas bias gender sendiri berlangsung perlahan. Kita bahkan bisa menemuinya dalam keseharian.

Kalau ditelusuri, proses ini masih berkaitan dengan gerakan feminisme yang dengan gigih menyuarakan kesetaraan gender. Dalam artikel dari The Conversation misalnya, Lewis Davis dan Astghik Mavisakalyan menyarankan untuk menggunakan ‘they’ di tempat kerja, karena penggunaan ‘he’ dan ‘she’ di tempat kerja membuat jurang ketidaksetaraan semakin lebar. Mengutip kolom dari Steve Gardiner di PBS News Hour, American Dialect Society di Washington, D.C., sudah mengesahkan bahwa ‘they’ bisa diterima ketika digunakan sebagai kata ganti orang ketiga tunggal yang bebas bias gender. Tentu ini menjadi angin segar bagi penutur bahasa Inggris yang juga mengusung kesetaraan gender.

Nasir: “Lu laki atau perempuan”
Betty: “mix double”

Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia? Uraian dari Katrin Bandel, dosen IRB Sanata Dharma Yogyakarta, dalam “Apakah Bahasa Indonesia itu Seksis” setidaknya bisa memberikan gambaran mengenai kekuatan Bahasa Indonesia yang bebas bias gender (gender neutral). Katrin memberi contoh dari nomina dalam bahasa Indonesia yang tidak bergender seperti ‘seniman’ hingga ‘penulis’, ‘buruh’, ‘direktur’, ‘tukang jahit’, hingga ‘presiden’. Dalam esai tersebut, Katrin menggugat penggunaan kata ‘perempuan pengarang’ yang justru membuat bahasa Indonesia menjadi seksis. Katrin juga menambahkan bahwa semestinya kita bisa memanfaatkan kekuatan dari bahasa Indonesia dan menjaga sifat bebas bias gendernya.

Kembali pada pembahasan mengenai kata ganti orang, dalam bahasa Indonesia, kita tidak mengenal ‘he’ ataupun ‘she’ untuk menunjukkan gender. Kekuatan yang dimiliki bahasa Indonesia sendiri mampu menjadi wadah untuk kesetaraan gender. Seperti halnya yang dilakukan oleh Benyamin Sueb dalam filmnya Betty Bencong Slebor (1978). Selaku seniman sekaligus sutradara film, Benyamin menggunakan kekuatan bahasa Indonesia untuk bisa mengutarakan permasalahan wadam (akronim hawa dan adam). Seperti apa kata ganti orang ketiga digunakan dalam film ini? Bagaimana Benyamin mampu “menaikkan derajat” wadam ke dalam film yang diproduksi pada masa Orde Baru? Penekanan terhadap peran perempuan dan laki-laki dalam keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat harus dimunculkan ke dalam film yang diproduksi selama Orde Baru. Kepiawaian Benyamin teruji dari caranya membuat film ini lolos sensor dan menjadi box office. Namun lebih penting lagi, kita bisa melihat Benyamin bermain-main dengan kata ganti orang pertama hingga ketiga untuk memperhalus posisi wadam yang problematis.

Baca tentang film Benyamin besutan sutradara Nawi Ismail
Baca tentang film komedi Indonesia terkini

Pada mulanya, sebagai penonton kita tidak akan terganggu. Betty yang diperankan Benyamin memperkenalkan dirinya sendiri sebagai pembantu serba bisa. Di depan majikannya, Betty menyebut dirinya sebagai ‘saya’. Lain halnya di depan Nasir, Betty menggunakan ‘lu’ dan ‘gua’ sebagai bahasa sesama pembantu. Ketika film setengah berjalan, Betty lebih sering menggunakan kata ‘kita’ untuk menyebut dirinya sendiri. Misalnya dalam adegan: Betty buang air kecil berjongkok, Betty menyanyi bersama Elvie Sukaesih di panggung rakyat, dan Betty ditangkap polisi. Ketika Betty sebagai individu berhadapan dengan peliknya kehidupan bermasyarakat, terutama ketika menjumpai Liyan yang tidak menerima kediriannya sebagai wadam, kata ‘kita’ akan digunakan.

Kita atau Kami

Dalam pembentukan identitas, logika pembedaan menjadi keniscayaan dalam menentukan batas-batas politik. ‘Kita’ akan disandingkan dengan ‘mereka’. Misalnya saja, kita sebagai orang Indonesia disatukan secara simbolik dengan adanya Kartu Tanda Penduduk. Kita berbeda dengan mereka yang tidak memiliki KTP. Dari pembedaan inilah, pembentukan identitas akan terus berjalan hingga sampailah pada proses mengimajinasikan mereka sebagai pencuri. Misalnya, sebagai orang Indonesia, kita mengimajinasikan penjajahan Belanda yang telah mengambil kenikmatan bumiputera selama beratus-ratus tahun. Pada satu momen sisi stabil ini akan lebur. Kita butuh fantasi untuk bisa stabilitas identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Betty Bencong Slebor menghadirkan wadam sebagai bagian dari ‘kita’. Benyamin secara sadar memilih kata ‘kita’ daripada ‘kami’ karena dengan cara demikian pengalaman menjadi satu dan sama akan lebih terasa. Arti ‘kami’ menurut laman KBBI mengandaikan yang berbicara bersama dengan orang lain tapi minus yang diajak berbicara. Sedangkan ‘kita’ mengandaikan kebersamaan bahkan dengan yang diajak berbicara. Dari pemilihan ini, Benyamin menggunakan kekuatan bahasa Indonesia yang bebas bias gender untuk mengikutsertakan individu minoritas. Lawan bicara Betty, dan penonton selaku pendengar, diajak untuk mengakui bahwa Betty sebagai wadam adalah bagian dari kelompok bernama kita. Betty menegaskan dirinya bukan musuh yang akan mencuri kenikmatan lawan bicaranya. Ia sama seperti kita.

Betty Bencong Slebor
Betty setelah dari kantor polisi. Sumber: Betty Bencong Slebor (1978)
Betty Bencong Slebor
Betty dan Nasir mengobrol membicarakan masa lalu Betty.

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Benyamin mampu menaikkan posisi tawar wadam sekaligus memberikan penghalusan dari kehadirannya yang problematis. Peran besarnya tentu pada pemilihan ‘kita’ yang secara halus mampu menginsepsi penonton untuk menerima situasi janggal akan kehadiran wadam. Namun ini tidak akan berhasil tanpa pors adegan sebagai penyokong penghalusan wadam. Dalam adegan Betty menceritakan muasal menjadi wadam pada Nasir, tanpa banyak dramatisasi Benyamin mampu membawa adegan ini selayaknya percakapan sehari-hari. Adegan ini seperti tidak memberikan ruang pada penonton ataupun pada Nasir untuk menilai ataupun menolak keputusan Betty. Pilihan hidup Betty tampak seperti pilihan hidup orang miskin kebanyakan: mati atau mencari pekerjaan dengan cara apa pun.

Cara Benyamin dalam Betty Bencong Slebor sebenarnya sangat mungkin diterapkan untuk membicarakan hal-hal yang misalnya saat ini masih problematis di masyarakat. Dengan membawa sesuatu yang terpinggirkan maupun termarjinalkan ke dalam kesadaran ‘kita’ bersama, sama seperti Benyamin, maka tidak menutup kemungkinan bahwa toleransi akan terus berjalan. Mengutip Katrin, “bahasa Indonesia sebetulnya sangat sesuai dengan impian para politikus bahasa feminis di negara-negara Barat.” Hal ini sudah dibuktikan oleh Benyamin dengan menggunakan kata ganti orang ketiga untuk membicarakan LGBT dengan cara halus. Bahkan sejak tahun 1978. Pastinya ini bisa dimulai dengan mengetahui dan memanfaatkan bahasa Indonesia yang bebas bias gender!

Betty Bencong Slebor (1978)

Menjadi pembantu rumah tangga di keluarga Bokir, Betty berhadapan dengan tuan rumah yang seksis dan doyan daun muda. Bersama dengan Nasir, Betty berpetualang dari pesta dangdut pertama, ke dua, lalu ke kantor polisi ditangkap bersama waria yang lain. Betty yang super kenes akhirnya menjadi penyelamat rumah tangga Bokir dan istrinya, dengan menyamar sebagai pengantin yang tertawan.

Sutradara dan Penulis: Benyamin Sueb |  Pemain: Benyamin S., Bokir, Aminah Cendrakasih, Nasirm Mansyur Syah, Elvi Sukaesih. | Produser: Abdul Madjid

Leave a Reply