Site Overlay

Sumba di Mata Sutradara (dari) Jawa

Setidaknya ada tiga sutradara yang pernah merekam Sumba. Pertama, Garin Nugroho dalam Surat Untuk Bidadari (1994). Kedua, Ifa Isfansyah melalui Pendekar Tongkat Emas (2014). Terakhir ada Mouly Surya lewat Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017). Ketiganya membawa aktor-aktor dari Jawa ke Sumba.

Secara sepintas, Garin, Ifa, dan Mouly, sama-sama menghadirkan Sumba tanpa kepastian hukum. Meskipun demikian, mereka bergulat dengan narasi masing-masing. Garin lebih menyoal pada masyarakat Sumba yang memiliki dua Nama-Sang-Ayah atau dua hukum: adat dan negara. Ifa lebih ingin mengangkat sisi komunal masyarakat sembari memberikan hierarki pendekar – rakyat jelata. Sedangkan Mouly dengan tegas menolak tawaran agama dan aparatus negara sebagai hukum.

Seperti apa Sumba diimajinasikan ke dalam film yang disutradarai oleh orang-orang dari Jawa ini? Fantasi semacam apa yang disematkan pada ‘Sumba’? Adakah hal-hal yang direduksi dari identitas kesukuan masyarakat Sumba dalam ketiga film ini?

Even revolutionary of utopian hopes, insofar as they envision a future without lack, deceive us, concerning the impossible status of the object – Todd McGowan.

Sumba yang Traumatis

Memahami film Garin sama seperti memahami kinerja kamera yang mampu merekam realitas apa adanya. Kebiasaan, cara tutur, hingga arsitektur rumah dilucuti habis-habisan dalam Surat untuk Bidadari. Garin menampilkan hal yang jarang dipandang. Penonton akan kehilangan jarak ternyamannya. Gambar seperti penyembelihan kuda, membaca hati babi, raungan tangis di upacara kematian yang grandeur, kematian tidak mengenal waktu, penusukan oleh sekelompok bocah, tradisi berkuda, hingga posisi perempuan yang harus tunduk pada laki-laki sekaligus hukum adat ditampilkan secara gamblang. Efeknya tentu nausea, atau, minimal kita akan menutup mata berharap film dilekaskan.

Sumba
“Ini bukan Ibu saya!” teriak Lewa menolak dihegemonisasi oleh Orde Baru. Courtesy PPFN

Konflik antara modernitas, adat, dan negara bergulir mengikuti hasrat Lewa, si tokoh utama. Lewa bertanya, “siapakah aku?”, “mengapa aku kehilangan Ibuku?”, dan “mengapa ‘Bapakku’ bukanlah bapakku?” Kerumitan ini tidak direduksi dengan penghadiran gambar-gambar indah khas Sumba semata. Bagi Garin, Sumba bukanlah perawan di mana makna terus-menerus harus disematkan. Garin mematangkan kritiknya terhadap Bapak Pembangunan lewat pertanyaan-pertanyaan Lewa. Melalui adegan Lewa membaca “ini Ibu” ditembakkan pada gambar perempuan berkebaya menjadi kuncian untuk melihat proses hegemonisasi Orde Baru.

Setiap kali Lewa mendapatkan jawaban mengenai identitasnya, masalah akan selalu mengikuti. Misalnya ketika ia ingin memotret jasad bapaknya, ia diburu lalu  diceburkan ke sungai. Saat ia memotret anak perempuan dari kampung lain, peperangan antar suku tidak dapat dielakkan. Hingga pada akhirnya, keingintahuan Lewa justru membawanya ke persidangan. Hukum negara melihat Lewa sebagai anak tidak beradab, sedangkan masyarakat adat justru membela Lewa. Situasi ini menimbulkan keriuhan saat masyarakat adat turut memprotes cara pandang negara mereduksi situasi yang bergulir di seputar Lewa.

Pada akhirnya Garin tidak memberikan mimpi indah. Kelegaan tidak serta merta dihadirkan.  Lewa diminta melihat sejarah dan membawa senjata melalui metafora buku dan pedang yang diberikan oleh Berlian Merah pada akhir cerita.

Sumba yang Dianggap Anak-anak

Walaupun Pendekar Tongkat Emas diniatkan hanya menjadikan Sumba sebagai latar cerita persilatan, namun kesalahan fatal tidak terelakkan. Ifa justru dengan gamblang menghadirkan ke-Sumba-an melalui model pakaian rakyat jelata, kain khas yang membungkus tongkat emas Cempaka, hingga ketipung yang selalu hadir saat pergantian sekuen.

PTE mengambil Sumba hanya dari keindahannya semata. Bisa dihitung seberapa sering gambar lanskap Sumba dengan langit cerahya bak screen saver dihadirkan sebagai penanda pergantian waktu. Ditambah dengan penggunaan filter warna, ini semakin menguatkan mooi Sumba.

Sumba
Pendekar Tongkat Emas. Courtesy: Miles Films

Bila melihat susunan pemain PTE, pemain utamanya (para pendekar) lebih banyak diisi pemain dari Jawa. Sedangkan untuk figurannya, raut wajah khas Indonesia Timur lebih banyak dijumpai sebagai rakyat jelata berpakaian khas Sumba. Hierarkinya jelas, pendekar memiliki posisi lebih tinggi dibanding rakyat jelata. Di sini, rakyat harus terus-menerus dilindungi dan dijamin keberlangsungan hidupnya. Misalnya dalam adegan Angin yang merelakan diri menjadi tawanan supaya rakyat bisa aman. Selanjutnya, penggambaran rakyat jelata dalam film ini lebih banyak didominasi oleh raut wajah bahagia. Perempuannya bisa menenun dengan aman. Lelakinya bisa bermusik. Anak-anak berlarian dengan bebasnya. Sisi polos jelata harus dijaga.

Kemudian kebiasaan masyarakat Sumba hanya dijadikan sebagai dekorasi semata. Tradisi berkuda diubah menjadi simbol birahi Elang dan Dara saat mereka berlatih jurus. Musik tradisi dicabut dari akarnya, dipakai sebagai aksesoris adegan dengan editing kurang total (bisa didengarkan lebih jelas, terkadang ada musik yang terputus sebelum ia sampai klimaks).

Sumba yang Utopis

Mouly menghilangkan sisi komunal masyarakat Sumba. Sesuatu yang mengidentifikasikan pada ‘Sumba’ hanya ditempelkan semata. Tubuh Marlina dibalut kain dan kalung yang menjadi ciri orang Sumba. Tradisi berkuda dan penggunaan parang, sesuatu yang identik dengan maskulinitas, dimampatkan secara serta merta ke dalam tubuh Marlina. Niatnya terbaca: pada titik tertentu, perempuan dalam posisi marjinal dan terdesak mampu memutar-balikkan tradisi. Namun karena konfliknya dibiarkan mengikuti Marlina yang minim identitas Sumba, gambar-gambar tersebut seperti semena-mena, kehilangan akarnya.

Cara Ifa dan Mouly serupa. Mereka memberikan gambar-gambar yang nyaman, meskipun bensin kisahnya menggunakan formulasi pengungkapan hasrat. Dalam film Ifa, hasrat itu dipicu oleh perebutan tongkat emas. Sedangkan dalam film Mouly, hasrat itu berasal dari Marlina yang mencari keadilan untuk dirinya sendiri. Keduanya sama-sama menyematkan akhir melegakan. Keseimbangan PTE akhirnya kembali setelah Dara mengambil tongkat emas. Sedangkan dalam Marlina, meskipun terlihat radikal, tetapi itu hanya di permukaan. Poinnya dia memberikan mimpi adanya sisterhood yang mampu mengatasi ketimpangan gender dalam film. Setelah empat babak, Marlina kembali ke gambaran awal: ketenangan tinggal di rumah yang jauh dari peradaban.

Untuk memahami fungsi film seperti karya Ifa dan Mouly, pendapat dari Todd McGowan mengenai sinema integrasi bisa membantu. Sinema semacam ini mendominasi skena film sekarang seperti film-film Hollywood dan film jenis lain yang dijumpai di pasaran. Hal ini dilihat tidak sesederhana karena ada kelas kapitalis yang mengontrol produksi (filemis) dan meminta sinema mendukung ideologi dominan. Kehadiran sinema integrasi justru memberikan kesempatan supaya kita bisa merasakan kehadiran tatapan traumatis (traumatic gaze) sembari menyamankan diri dalam balutan fantasi yang dihadirkan dalam struktur film (McGowan, 2007: 115).

Sumba
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak. Courtesy: Cinesurya

Lalu bagaimana cara Mouly menyamankan penonton?

Lihat Marlina saat menenteng kepala Markus sebagai tawanannya dalam babak ‘Perjalanan’. Kepala ini memiliki muatan traumatis, namun Mouly bisa menormalisasi tatapan tersebut. Ia membiarkan kepala Markus tampak biasa saja. Pun saat tubuh tanpa kepala hadir dalam layar menghantui Marlina, penonton dibiarkan berada dalam jaraknya yang nyaman. Secara perlahan tatapan traumatis itu didomestifikasi ke dalam layar, hingga kemudian ia menghilang (McGowan, 2007: 116). Domestifikasi ini kemudian berlanjut ke babak ‘Pengakuan’, saat Marlina meletakkan kepala Markus di sebuah kotak kayu. Kemudian pada babak ‘Kelahiran’, penonton semakin dinyamankan karena pada akhirnya kepala Markus kembali ke tubuhnya.

Baca kembali Suzzanna: Bernapas dalam Lumpur (2018)

Sinema integrasi sebisa mungkin mereduksi antagonisme kelas lewat penyatuan dua sejoli (yang mungkin) berbeda latar belakang kelas sosial. Mouly sendiri memang tidak menghadirkan penyatuan semacam itu. Namun ia bertindak lebih jauh dengan menekankan pada individualisme. Misalnya, konflik antara Marlina dan masyarakat adat seperti dalam adegan para warga yang lari ketika melihat Marlina membawa kepala Markus. Kemudian sewaktu polisi menjawab aduan Marlina, bahwa untuk melakukan visum baru bisa dilaksanakan bulan depan. Contoh-contoh yang dihadirkan semacam ini semakin mempertegas posisi Marlina sebagai individu untuk tidak bergantung pada ketidakmampuan Liyan. Sebenarnya sedari awal, Marlina sudah mengetahui hal tersebut seperti tersemat dalam adegan tidak ada sinyal saat Marlina menelepon kepolisian. Namun perjalanan dalam tiga babak setelahnya, seperti membawa kekurangan Liyan itu ke dalam hal yang lebih empiris. Sudah jauh hari Marlina yakin bahwa tidak akan ada satu orang –pun yang membantunya.

Fantasi semacam ini turut disokong dengan pemilihan rumah di atas bukit yang jauh dari warga, lanskap jalanan Sumba yang nyaris kosong tanpa ada orang lalu-lalang, dan minimnya percakapan Marlina dengan orang lain. Pola ini mengingatkan saya pada film Suzanna: Bernapas dalam Lumpur (2018), ketika rumah Suzanna dijauhkan dari lingkungan masyarakat. Karena posisinya yang demikian, Suzzanna harus bertarung seorang diri dengan empat orang perampok. Bahkan hingga perempuan ini mati, ia harus mencari keadilan dengan membunuh semua pelakunya. Apakah pola semacam ini hanya berlaku untuk karya sutradara yang notabene berasal dari Jakarta? Ataukah dengan menghilangkan aspek komunal semata-mata digunakan untuk menghemat budget produksi? Pertanyaan semacam ini mungkin bisa dilanjutkan untuk melihat kecenderungan film Indonesia ke depannya.

Penutup

Ketiga film tersebut memang tampak berjarak dengan Sumba. Namun, hanya Garin yang berusaha menjembatani jarak dengan merengkuh ‘yang baik’ dan ‘yang buruk’ dari Sumba. Surat untuk Bidadari yang dominan mengikuti hasrat Lewa untuk mendapatkan kepastian identitas justru mampu menunjukkan kontradiksi perjumpaan adat, modernitas, dan negara. Dengan cara demikian, film ini memiliki potensi untuk menunjukkan kelemahan ideologi dominan kala itu, yakni Orde Baru. Meskipun menyakitkan, namun Garin mau membawa hal-hal traumatis ke dalam layar.

Sedangkan Ifa dan Mouly hanya mengambil keindahan Sumba semata. Keduanya justru menyokong, menyamankan penonton untuk masuk ke dalam ideologi dominan yakni pasar.

Referensi

McGowan, Todd. 2007. The Real Gaze: Film Theory after Lacan, New York: State University of New York.

Surat untuk Bidadari (1994)

Lewa selalu bertanya mengenai dirinya dan mengapa ia terjebak dalam situasi sedemikian rupa. Suatu ketika ia menulis surat untuk bidadari. Tetapi kenyataan tetaplah pahit. Bidadari itu tak lain adalah guru Lewa di sekolah.

Sutradara      : Garin Nugroho | Penulis : Garin Nugroho, Armantono | Pemeran        : Nurul Arifin, Hotalili, Ibrahim Ibnu, Fuad Idris, Adi Kurdi, Jajang C. Noer, Monica Oemardi, Viva Westi, Windy Prasetyo, Budi Utomo |Durasi            : 116 menit | Genre  : () Rumah Produksi: PPFN

Pendekar Tongkat Emas (2014)

Biru dan Gerhana memiliki ambisi untuk menguasai dunia persilatan. Demi mewujudkan mimpinya, mereka mengambil tongkat emas warisan Cempaka sang guru dari Dara dan Angin. Dibantu Elang, akhirnya Dara bisa membalas kematian Cempaka sekaligus menjaga keseimbangan dunia,

Sutradara      : Ifa Isfansyah | Penulis           : Jujur Prananto | Pemeran        : Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Aria Kusumah, Darius Sinathrya, Prisia Nasution | Durasi  : 112 menit | Genre : Silat | Rumah Produksi : Miles Films

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Tiba-tiba rumah Marlina disatroni perampok. Terdesak antara hidup atau merelakan diri untuk diperkosan, Marlina meracuni empat kawanan perampok lalu memenggal kepala Markus si pemimpin. Esok harinya, Marlina menempuh perjalanan berkilo-kilo meter, membawanya pada Marlina yang baru.

Sutradara      : Mouly Surya | Penulis   : Mouly Surya, Rama Adi (Ide Cerita oleh Garin Nugroho) | Pemeran        : Marsha Timothy, Dea Panendra, Yoga Pratama, Egi Fedly | Durasi            : 90 menit | Genre             : Satay Western | Rumah Produksi : CineSurya

Leave a Reply