Site Overlay

Perempuan Tanah Jahanam: Teror di Balik Keindahan

Tak ada kata yang bisa mewakili kekaguman saya pada adegan pembuka dalam Perempuan Tanah Jahanam. Ping pong percakapan hadir lewat Maya dan Dini yang bertukar obrolan lewat ponsel dalam kotak kecil di pintu tol. Bangunan adegan ini tampak ritmis disokong dengan jalinan gambar yang membuat penonton mampu menangkap pengalaman karakternya. Selain itu, ketakutan seorang perempuan pada sosok asing, entah takut dibunuh atau takut diperkosa, tersampaikan dengan tepat seolah ia mampu mewakili pengalaman para perempuan yang harus berhadapan dengan ruang-ruang yang sejatinya masih didominasi laki-laki. Adegan-adegan tersebut terukur dan mampu membuat rasa penasaran penonton terjaga.

Baca Review Gundala

Film kedua dari Joko Anwar yang tayang pada tahun 2019 ini pada awalnya mampu mengobati kekecewaan saya pada Gundala. Namun ternyata obat ini hanya bertahan pada paruh pertama. Tepat setelah adegan di pasar berakhir, saya kecewa. Joko Anwar masih sama. Ia masih mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan konflik dalam cerita Perempuan Tanah Jahanam. Ia juga terjebak, dan tidak mampu melampaui kecenderungan film horor/ thriller Indonesia yang masih mereproduksi mitos ‘kota’ vs ‘desa’ dan ‘orang modern’ vs ‘orang primitif’.

Setelah selesai menonton Perempuan Tanah Jahanam, saya hanya bisa membatin lirih. Bisakah kami selaku penonton yang jauh dari seni tradisi mendapatkan imaji yang layak tentang bagian dari sejarah kami? Bisakah kami mendapatkan pengembangan wacana, bahwa hutan bukanlah sesuatu yang angker dan mistis, tetapi juga bagian dari apa yang menghidupi dan kami hidupi sekarang? Apakah salah bila bisa menunjukkan bahwa orang desa memiliki sesuatu yang humanis, bahwa mereka bisa menyelesaikan masalahnya sendiri?

Dunia Perempuan Tanah Jahanam

Ketiadaan dana membuat Maya berusaha mengklaim kembali apa yang menjadi haknya dan mencari tahu sejarah hidupnya. Beragam pertanyaan mendera: Mengapa ia menjadi yatim piatu? Mengapa ada seorang pria misterius datang hanya untuk membunuhnya ketika pintu tol sepi? Akhirnya, bersama Dini, Maya bergegas menuju Desa Harjosari.

Tiga gadis kecil muncul sekelebat ketika Maya memalingkan muka keluar jendela. Ia menaiki bus bersama Maya menuju Desa Harjosari. Gambar-gambar ini cukup membekas baik dalam benak Maya maupun benak saya selaku penonton. Joko Anwar cukup berhasil dalam menyampaikan ketakutan karakter. Sutradara Perempuan Tanah Jahanam ini memang tidak memberi ruang kelegaan lewat teror yang minim efek kejut dan akting Tara Basro yang meyakinkan.

Hutan, barisan pepohonan, jalanan setapak, lalu rumah-rumah gedek minim lampu penerangan sengaja dibuat untuk menciptakan pengalaman berada di ruang yang jauh dari keramaian. Saat andong melintas untuk menyibak barisan pepohonan menuju Desa Harjosari, adegan ini seolah menjadi pernyataan pembuka bahwa ada ‘teror di balik keindahan’.

Perempuan Tanah Jahanam
Sancaka, aku pernah bertemu Ibumu. (Perempuan Tanah Jahanam, 2019)

Ekspektasi saya untuk mendapatkan cerita mendalam mengenai Maya yang menggali sejarah hidupnya kemudian ambyar. Alih-alih menyediakan clue supaya Maya bisa menjadi detektif untuk hidupnya sendiri, teror justru membuat sisi pencarian itu mengambang. Perempuan Tanah Jahanam langsung kehilangan tajinya setelah setengah cerita berjalan. Pernjanjian dengan Iblis yang diceritakan secara tiba-tiba. Motivasi Nyi Misni sebagai Mother Monster, yang bisa diolah lebih jauh ternyata berakhir sebagai peneror tanpa sisi humanistik. Masyarakat desa digambarkan seolah terbius, mau melakukan hal di luar norma dan tidak berani untuk memprotes Nyi Misni maupun Ki Saptadi selaku otoritas di desa. Kemudian gambar bayi merah yang ditenggelamkan, menjadi replika sisi sadistik beruntun yang mengarah pada primitifisasi sebuah kelompok masyarakat. Ya memang ini hanya fiksi, tetapi minimnya imajinasi membuat fiksi ini tidak mampu menawarkan jalan lain bagi masyarakat desa untuk menghapus kutukan mereka.

Perempuan Tanah Jahanam bisa dikatakan sebagai eksplorasi penggunaan hutan untuk memicu ketegangan sebagaimana film Joko Anwar sebelumnya yakni Modus Anomali (2012). Bedanya, dalam  Modus Anomali, kita bisa mendapati video sebagai bukti, membawa karakter utama dan penonton mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan dalam Perempuan Tanah Jahanam, Joko Anwar mengambil jalan pintas. Alih-alih mengeksplorasi temuan foto dalam rumah orang tua Maya, Joko Anwar menunjuk tiga gadis hantu tersebut sebagai titik terang konflik. Adegan saat Maya kesurupan hingga ia bisa melihat kembali masa lalunya mengindikasikan lubang dalam penceritaan. Adegan ini bisa diumpamakan seperti flashdisk yang dicolokkan ke komputer. Joko Anwar selaku penulis naskah tinggal menekan command c dan command v, lalu voila sejarah Maya terkuak sudah.

Baca Review Sundel Bolong

Baca Review Ratu Ilmu Hitam

Jalan pintas! Sungguh jalan pintas! Mungkin lebih tepat disebut grusa-grusu. Penyelesaian semacam ini kadang membuat kita lupa bahwa beberapa tahun lalu ada film seri berjudul Sherlock, dibuat oleh Mark Gatiss dan Steven Moffat. Setidaknya dari cara Holmes kita bisa mendapatkan inspirasi untuk membuka peluang-peluang baru dalam hal pencarian data yakni dengan melihat segala kemungkinan. Kalau memang para hantu dalam Perempuan Tanah Jahanam diniatkan sebagai pembawa ingatan supaya Maya bisa menemukan jawabannya, kita bisa menilik dari cara Aphicatpong Weerasenthakul dalam Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives (2010) saat hantu Huay dan Thong dengan sabar menceritakan kabar mereka di alam lain. Well.. Apa mungkin saya yang terlalu terbius dengan cerita Detektif Conan? Ataukah penulis naskah abai pada peluang untuk mengekskavasi memori dalam sinema?

On Violence

Apa saja kesamaan Perempuan Tanah Jahanam dan karya Stanley Kubrick berjudul a Clockwork Orange (1971)? Pertama, Simfoni No. 9 karya Ludwig Van Beethoven digunakan sebagai latar film. Kedua, film ini sama-sama menyajikan kekerasan di luar “kesepakatan” masyarakat. Baik Alex dalam A Clockwork Orange maupun Nyi Misni dalam Perempuan Tanah Jahanam memiliki karakter dingin, bisa melakukan ultra-violence terhadap karakter lain dalam cerita. Meskipun demikian, banyak hal yang bisa dikupas dari dua kemiripan ini, sehingga nantinya bisa dilihat bahwa kedua film berjalan berbeda arah dalam memandang kekerasan.

Simfoni No. 9 merupakan karya Beethoven yang dibuat sekitar tahun 1822 hingga 1824. Komposisi ini pertama kali dimainkan di Wina pada 7 Mei 1824. Kritikus dan ahli musik berpendapat bahwa komposisi ini menjadi capaian terhebat dalam sejarah musik Barat. Simfoni No. 9 menjadi contoh pertama untuk choral symphony, komposisi musik yang ditujukan untuk orkestra dan mengikutsertakan vokalis solo sebagai bagian musiknya. Bagian chorus-nya, diambil dari puisi “Ode to Joy” karya Friedrich Schiller yang ditulis pada tahun 1785 lalu direvisi pada tahun 1803, dengan teks tambahan buatan Beethoven.

Meskipun Cina mengharamkan apapun yang berasal dari Barat, nyatanya musik Beethoven ini menjadi pengecualian pada tahun 1949.  Mao Zedong mengijinkan musik ini dimainkan pada perayaan kemenangan Partai Komunis Cina kesepuluh. Film propaganda Nazi juga menggunakan musik ini karena Adolf Hitler mengidentifikasikan dirinya dengan Beethoven.[1] Saat Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989, Leonard Bernstein memimpin orkestra yang memainkan Simfoni No. 9 sebagai perayaan di malam Natal.[2] Pada tahun 1972, Dewan Eropa memutuskan bahwa gubahan ini menjadi musik pemersatu. Akhirnya para pemimpin Uni Eropa sepakat untuk menjadikannya lagu kebangsaan resmi pada tahun 1985. Simfoni ini menjadi simbol beragam ideologi ,dari perjuangan kelas hingga fasisme.

Dalam A Clockwork Orange, penonton bisa menjumpai Simfoni No. 9 dimainkan dengan bermacam cara. Saat Alex mendengarkan seorang perempuan menyanyikan bagian “Ode to Joy” di Korova Milkbar, ia tergugah. Musik ini membawanya ke fase sublim. Saat adegan di toko kaset, Simfoni No. 9, gerakan keempat, Turkish March, dimainkan menjadi musik festive dan menyamankan Alex yang bertemu dengan dua gadis. Adegan ini berlanjut dengan gerak cepat adegan seks mereka bertiga, musiknya masih sama. Kemudian saat Alex menjalani terapi, Simfoni No. 9 dimainkan bersamaan dengan footage kekerasan dan kejahatan perang Nazi. Tak sanggup menjalani siksaan ini, ketika musik yang menjadi obsesinya justru dilekatkan pada gambar kekejaman, Alex menyatakan dirinya sembuh. Namun pada akhirnya penonton menyadari bahwa Alex masih seperti Alex yang memiliki raut wajah sama seperti saat ia melakukan tindakan kekerasan. Dalam film ini, Simfoni No. 9 yang dianggap sebagai pencapaian terhebat peradaban manusia (baca peradaban Barat) ternyata tidak netral. Nilai positif seperti membawa pendengarnya pada tahap sublim, maupun nilai negatif seperti dalam adegan kekerasan, sama-sama dihadirkan.

Sedangkan dalam Perempuan Tanah Jahanam, penonton akan mendengar “Ode to Joy” yang dimainkan dalam instrumen chimes (salah satu instrumen perkusi yang bunyinya mirip dengan lonceng). Musik ini dimainkan setelah Maya berhasil kabur dan menyelesaikan kutukan di desa tersebut. Masih diiringi musik yang sama, penonton bisa melihat gambar desa dan rumah-rumahnya yang telah memiliki lampu dan tampak dari kejauhan ternyata ada bangunan menyerupai gereja (minus salibnya). Kalau memang diniatkan sebagai film horor / thriller yang berbeda, mengapa atmosfernya masih sama? Saya teringat dengan film horor tahun 1980an, ketika pada akhir cerita muncul ulama atau ada adegan masjid menjadi ramai. Adegan ini menyiratkan bahwa ancaman itu telah hilang karena kehadiran modernitas dan agama. Meskipun pada akhir Perempuan Tanah Jahanam, ternyata muncul Nyi Misni sebagai hantu pemakan orok bayi, tetapi tetap Ode to Joy terngiang sebagai bentuk penyelesaian konflik di desa Harjosari.

Dikotomi desa dan kota, modern dan primitif, justru dilanggengkan salah satunya lewat pilihan latar musik. Berbeda dengan A Clockwork Orange yang mampu menunjukkan bahwa Simfoni No. 9 mewakili yang baik dan yang buruk, dalam Perempuan Tanah Jahanam gubahan ini dilekatkan pada suatu kebaikan: Maya terbebas dan bayi terlahir normal. Hal ini kontras dengan pilihan penggunaan musik tradisi yang didominasi gamelan untuk mengiringi bagian ketegangan dan teror dari awal hingga menjelang akhir film. Alih-alih menekankan pada kekayaan bunyi yang tidak dimiliki tradisi musik Barat, musik gamelan dilekatkan pada hal-hal klenik dan mistis. Musik ini digunakan sebagai tensi-rilis, sedangkan Ode to Joy sebagai rilisnya. Terkesan tidak sensitif memang. Apakah memang kecenderungan sutradara yang lama tinggal di kota besar menganggap lingkup desa dan hutan dengan pandangan seperti ini?

Selanjutnya, kedua film ini sama-sama menyajikan kekerasan di luar “kesepakatan” masyarakat. Dalam The Real Gaze (2007), Todd Mcgowan pernah menyatakan bahwa alasan sinefil menikmati (enjoying) film karena medium ini mampu menghadirkan hal-hal obscene, hal-hal di luar norma.[3] McGowan memberikan contoh bahwa sinema itu sendiri mampu memberikan imaji, misalnya, percintaan di luar hubungan heteronormatif. Dalam film Kubrick dan Joko Anwar, selain karakter-karakternya yang tidak mengiyakan konsep keluarga ideal (bapak-ibu-anak kandung), mereka juga menampilkan kekerasan dengan kadar berlebih yang tidak pernah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Tingkah Alex dan gengnya dalam A Clockwork Orange sendiri bisa membuat penonton merasakan hal yang ngeri-ngeri sedap. Slavoj Zizek dalam film The Pervert Guide to Ideology (Sophie Finnes, 2012) menyatakan bahwa tingkah laku Alex mampu membuat penonton tersilap dan terteror. Lingkungan perkotaan dalam kota futuristik A Clockwork Orange digambarkan memiliki tatanan yang mapan. Alex justru mengganggu tatanan tersebut hingga akhirnya ia harus dinormalkan kembali lewat serangkaian eksperimen psikologis. 

Dalam Perempuan Tanah Jahanam, permainan teror ini berhasil ketika  Joko Anwar mengambil latar di sebuah perkotaan, tepatnya di pintu tol saat adegan pembuka. Teror bahwa ada ancaman yang mengganggu stabilitas tersampaikan dengan baik. Namun ketika adegan dalam hutan, yang dihadirkan sekali lagi adalah proses pemitosan bahwa desa dan hutan adalah sebuah kawasan tanpa hukum. Semua orang menjadi ultra-violence: Nyi Misni dengan kemampuan ilmu hitamnya yang harus menjadi trance untuk mendapatkan wangsit; Ki Saptadi didera amnesia dan mau menenggelamkan bayi-bayi merah; atau warga desa dengan imajinasi seksisnya saat adegan penggeledahan di rumah Ratih.

Memperbincangkan teror dan kekejaman terhadap Ibu hamil, kita juga bisa menilik dari cara Joko Anwar merepresentasikannya dalam Modus Anomali, Gundala, dan Perempuan Tanah Jahanam. Film Gundala memiliki konten yang lain karena teror dan kekejaman penanaman gagasan (anak terlahir cacat) berlangsung di kota besar. Meskipun penonton di kota besar bisa merelasikan secara langsung (karena ada kedekatan secara latar belakang sosial dan budaya), terteror sejenak dengan isu virus amoral, namun Joko Anwar akhirnya memberikan kelegaan. Gundala mampu menyelamatkan para ibu hamil yang histeris pada akhir cerita. Sedangkan dalam Modus Anomali dan Perempuan Tanah Jahanam, sekali lagi, penonton masih berada dalam kursi ternyaman mereka. Hal ini pun diamini oleh pembuatnya sendiri misalnya dengan memanggungkan kekerasan ekstrim seperti penusukan terhadap ibu hamil dalam Modus Anomali, ataupun penenggelaman bayi-bayi baru lahir dalam Perempuan Tanah Jahanam. Realitas yang dihadirkan dalam kedua film ini jauh dengan keseharian penonton yang tinggal di kota besar. Sehingga, meskipun masyarakat desa dibuat memiliki karakter primitif dan sadistik ditambah dengan kepercayaan berbau klenik, bias-bias kasih itu tidak akan terasa.

Butuh Wacana Lain Tentang Desa dan Hutan (Semoga Ada Dalam Setahun Mendatang di Layar Bioskop Franchise di Indonesia)

Ketika penonton merasa nyaman menikmati adegan tersebut, pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah konstruksi tentang desa tanpa keteraturan, uncivilized seperti dalam Perempuan Tanah Jahanam bisa disebut sebagai cara pandang primitifisasi yang telah bertahun-tahun ditanamkan lewat media? Minim protes untuk mempertanyakan beberapa hal berikut: Mengapa harus  intrik keluarga Dalang? Mengapa untuk laku ilmu hitam harus melakukan tarian trance seperti Nyi Misni? Adegan pembantaian di belakang kelir (layar) memang tampak memuaskan, namun mengapa harus seperti ini? Mengapa pembantaian tidak dilakukan di belakang layar bioskop, bukan kelir? Seolah semua sudah nyaman dengan pilihan Joko Anwar dan tidak melihat potensi pelanggengan dikotomi: desa di Jawa identik dengan klenik atau trance ; kota identik dengan keteraturan?

Jangan-jangan penonton merasa nyaman saat melihat sisi sadistik dan kekerasan dalam film ini karena beranggapan: Oh, ini kan cuma terjadi di desa dan di hutan. Toh akhirnya Maya si tokoh utama bisa keluar dari tempat ini dan bisa melanjutnya hidupnya kembali. Lalu bagaimana bila film selanjutnya menggambarkan masyarakat kota terteror oleh ilmu hitam atau kuyang yang mengganggu kapitalisme bekerja? Apakah tetap akan merasa aman dan nyaman?

PEREMPUAN TANAH JAHANAM (2019)

Sutradara: Joko Anwar | Penulis: Joko Anwar | Pemeran: Tara Basro, Marissa Anita, Asmara Abigail, Christine Hakim, Ario Bayu, Zidni Hakim, Afrian Aris, Kiki Narendra, Faradina Mufti| Kamera: Ical Tanjung | Disain Produksi: Frans XR Paat | Suara dan Musik: Anhar Moha | Produksi: Base Entertainment, CK Entertainment, Rapi Films, Ivanhoe Pictures


[1] https://fcit.usf.edu/holocaust/arts/musReich.htm

[2] https://www.theguardian.com/music/2019/jul/03/beethovens-ninth-farage-turned-his-back-on-more-than-just-music

[3] McGowan, Todd. (2007). The Real Gaze: Film Theory After Lacan. Albany: State University of New York Press.

Leave a Reply