Site Overlay

Membaca Gambar Ratu Ilmu Hitam

Kali ini aku akan membagikan hasil bacaanku dari film Ratu Ilmu Hitam (1981) yang disutradarai oleh Lilik Sudjio. Film ini dibintangi oleh Suzzanna tepat setelah ia membintangi Sundel Bolong (1981). Satu kata buat film ini: Amazing!

Thank to my Capricornian proofreaders: Anne Shakka & Melisa Angela. Gambar diambil dari Youtube, sumber: Flik.

Sekilas tentang Lilik Sudjio. Ia lahir di Makassar, 14 Mei 1930 dan meninggal di Jakarta, 9 Desember 2014. Filmnya yang berjudul Tarmina (1954) mendapatkan penghargaan Festival Film Indonesia 1955, berbagi dengan Lewat Djam Malam (1954) karya Usmar Ismail. Film Lilik yang pernah kutonton di antaranya: Tarsan Kota (1974), Traktor Benyamin (1975), Zorro Kemayoran (1976), dan Misteri Gunung Merapi (1989). Selama hidupnya, Lilik telah menyutradarai lebih kurang 50 judul film, termasuk Gundala Putra Petir (1981) yang sekarang dibuat ulang oleh Joko Anwar. Lilik pernah belajar teknik montase di Studio LVN, Manila, dan belajar sinematografi di Amerika Serikat pada 1960 – 1962.

Ide cerita Ratu Ilmu Hitam dibuat oleh Subagio Samtani, penulis cerita Sundel Bolong. Secara garis besar ceritanya tentang perebutan jabatan lurah. Sepele banget deh! Seperti komik Naruto yang berpuluh-puluh episode cuma untuk melihat perjalanan Naruto yang akhirnya bisa menjadi hokage atau kepala desa. Tapi gila, bok! Terlihat sekali bahwa Lilik Sudjio adalah sutradara Indonesia terniat sepanjang masa! Dia bisa membangun sebuah desa dengan surau terbengkalai, membakar rumah kayu, mendapatkan gambar dengan komposisi benar dan enak dilihat, membuat Suzzanna loncat-loncat di atas genteng dengan latar bulan besar, dan membuat goa dengan segala pernak-pernik ilmu hitamnya. Aku bertaruh! Film Wiro Sableng 212 akan kalah dalam hal membangun mise en scene (properti dan apapun yang tampak di depan kamera) dengan film ini.

Baca Review Wiro Sableng 212 produksi Lifelike Pictures

Diceritakan di sini, Murni (diperankan Suzzanna) difitnah oleh Kohar (diperankan Alan Nuary) telah mengirimkan santet pada pesta pernikahannya. Kohar adalah pria yang merenggut keperawanannya, sekaligus orang yang menyuruh warga desa membakar rumah dan membuang Murni ke jurang. Murni diselamatkan oleh dukun Gendon (diperankan W.D. Mochtar) dan diperdaya untuk membalas penghinaan yang dilakukan warga. Gendon menurunkan ilmu teluh dan mendapuk Murni sebagai ratu ilmu hitam. Saat Murni meneror desa, datanglah pemuda dari kota yang taat beribadah bernama Permana (diperankan Teddy Purba). Murni dan Permana akhirnya jatuh cinta. Ternyata dalang semua kejadian ini adalah Gendon, orang yang mengirimkan teluh saat Kohar menikah dengan anak lurah, sekaligus orang yang sangat haus kekuasaan di desa. Gendon masih dendam karena gagal menjadi lurah. Murni dan Permana pun harus berhadapan dan kemudian diketahui ternyata pria ini adalah kakaknya yang selama ini pergi ke kota untuk menyantri. “Kita hanyalah wayang dalam sebuah orkestra,” begitu kata Murni yang menyadari bahwa dia dan Permana tidak akan pernah bersatu.

Sama seperti tulisanku mengenai Sundel Bolong, di sini aku juga akan menerapkan langkah studium. Bila kemarin aku menerjemahkan studium sebagai belajar, kali ini, aku mengubahnya menjadi ‘membaca’. Mengenai studium, Pak Nardi akhirnya bisa menjelaskan dengan sederhana seperti berikut: tahap eksplorasi akan pelbagai objek, saat saya menempatkan diri di depan foto, dan saat saya mengapropriasi foto sebagai spasialitas. [1] Studium-punctum-satori diibaratkan Pak Nardi seperti tahap-tahap dalam Latihan Rohani: Oratio, Preparatio, Puncta, dan Colloquium. Sebelum melakukan puncta (hasil eksplorasi, pengamatan), orang akan melakukan studium, masih boleh membaca.[2]

Baca Studium untuk Sundel Bolong 

Lalu bagaimana mengaplikasikannya dalam film? Aku sendiri akan memulainya dari adegan atau sekuen yang menarik perhatianku. Aku akan mengambil snapshot gambar yang aku inginkan untuk dibaca. Setelahnya, aku akan menulis apa yang aku saksikan dari gambar tersebut. Latar musik dan dialog dalam film aku umpamakan seperti saat Barthes meneliti caption dalam foto berita. Kemudian, aku tidak akan memilih gambar-gambar grosteque seperti saat leher Kohar putus, warga desa yang dikerubungi lalat, atau warga desa yang aliran darahnya menggelembung hingga memancarkan darah. Melihatnya saja bisa membuatku merinding, apalagi menuliskannya kembali. Bisa-bisa aku gila karena menulis gambar demikian. Sama seperti tulisanku kemarin, akan ada sisi personal yang keluar saat aku menuliskan pembacaanku. Nah, inilah hasilnya.

Kohar ditandu.

Pengantin pria ditandu sebelum masuk ke pelaminan pernah aku temui dalam karya Lilik yang lain yakni Misteri Gunung Merapi. Bedanya, dalam Misteri, pernikahan menggunakan adat Minang dan baju pengantin berwarna merah. Sedangkan di sini, adat yang digunakan adalah Jawa. Pengantin pria diibaratkan seperti raja. Apakah ini juga menjadi salah satu sebab kemunculan istilah ‘raja dan ratu dalam semalam’? Pakaian adatnya cenderung berkiblat ke pakaian pengantin Solo. Tetapi mengapa yang digunakan adalah kesenian reog? Selain itu, dalam gambar ini, aku melihat besarnya energi yang dikeluarkan oleh tim pembuat film karena ia bisa menghadirkan warga dalam jumlah sangat banyak. Semuanya sesuai posisi. Ada yang melihat, ada yang membawa tandu, dan ada yang menari. Kemudian, berdasarkan gambar, penonton akan melihat bahwa latar film ini berlangsung di desa. Warga masih menginjak tanah, bukan beton atau aspal yang lebih banyak ditemukan di kota. Lalu tandu yang digunakan pengantin pria terbuat dari kayu dihiasi dengan kertas plastik berwarna biru, merah, emas, dan silver. Bisa jadi ini adalah cara menunjukkan hasil reka supaya orang desa dengan terbatasnya modal mampu mengalami menjadi “orang gede”. Penggunaan tandu dalam mengantar pengantin pria jarang saya temui sekarang ini. Beberapa teman yang menggunakan adat Jawa dalam pernikahannya sebenarnya melakukan upaya serupa, berkeinginan merasakan sensasi menjadi raja dan ratu semalam, bukan dengan tandu melainkan kereta kuda. Lebih gado-gado lagi, ada yang menggunakan mobil yang bampernya dihias dengan bunga.

Langit donat dan Pawang Hujan.

Untuk sekuen Kohar Menikah, pembuat film ini terbilang cukup niat karena mereka mampu menghadirkan detail pernikahan adat Jawa lengkap dengan penghadiran pawang hujan. Si pawang kemungkinan diletakkan di pojok tersembunyi dari keramaian, lengkap dengan cengkune atau prasyarat yang dibutuhkan pawang di sampingnya. Ditambah dengan pernyataan, “Loh, saya kan sudah puasa lima hari. Kok masih hujan?” penonton bisa mendapatkan informasi secara penuh mengenai ritual pawang hujan. Langit yang bentuknya seperti donat dengan awan mendung menyebar, juga sengaja ditampakkan. Melihat gambar ini, aku jadi teringat pernikahanku sendiri. Semua tamu mengatakan bahwa langit seperti donat ketika acara tersebut berlangsung. Aku sendiri juga bertemu dengan pawang hujan sekaligus diberi tahu secara langsung prasyarat untuk ritual ini. Isinya tidak jauh berbeda. Merelasikan gambar ini dengan pengalamanku saat itu, aku menduga bahwa kehadiran pawang hujan dan prasyaratnya tidak pernah berubah. Menarik nantinya bila aku juga menemukan dokumentasi, entah dari film dokumenter maupun fiksi, mengenai keberadaan pawang hujan dan fungsinya dalam acara penting di masyarakat. Apakah ada perubahan? Lalu wacana semacam apa yang hendak dibangun dengan penghadirannya di dalam gambar? Apakah ia semata ingin menunjukkan suatu klenik, yang kadang tidak bisa dilogikakan? Ataukah kehadirannya memang menjadi hal mutlak untuk memahami kompleksitas masyarakat yang mengalami proses modernisasi, tetapi juga masih menganggap kehadiran pawang sebagai sesuatu yang real langsung dari kondisinya?

Reog Mengamuk.

Melihat gambar ini secara keseluruhan, aku tercengang. Setelah penonton bisa melihat detail pernikahan Jawa di suatu desa, dengan antusiasme warga dan ingar-bingar acara pembukanya, acara kemudian menjadi malapetaka. Di sini, Lilik belum menggelontorkan seluruh informasi mengenai penyebab acara pernikahan yang seharusnya meriah malah menjadi chaos. Ia membiarkanku sebagai penonton bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan warga berlarian? Apa yang menyebabkan gerakan reog menjadi tidak menentu? Mengapa orang-orang masih menggotong tandu sambil berlarian padahal reog sedang mengamuk? Bleketepe dibiarkan terjatuh. Kepala reog berputar-putar. Warga panik. Ia membiarkanku sebagai penonton melihat reog mengamuk secara slow motion. Ia membiarkanku sebagai penonton mendengarkan alunan musik, gabungan tradisi (dominan gamelan) dan noise, ditembakkan ke arah gambar kepala reog. Ia membiarkanku sebagai penonton membaca daftar kru film. Aku menduga bahwa Lilik sedang melakukan legitimasi atas karyanya. Ia justru menempelkan tulisan berisi daftar kru dengan huruf merah di atas gambar yang paling dahsyat dalam film ini sebagai upaya untuk melakukan insepsi. Lilik egois! Ia seperti tidak mau berbagi kepada penonton dengan menghadirkan gambar ini secara utuh. Salut untuk editor film ini!

Warga Antusias.

Memandangi wajah-wajah memang menyenangkan. Terkadang kita bisa menjumpai wajah yang tidak ingin dilihat, tidak ingin dimaknakan. Gambar ini bisa dijumpai dalam sekuen Kohar Menikah. Warga menyunggingkan senyum, melihat pawai dan tandu Kohar berjalan di depan mereka. Mereka memakai pakaian keseharian. Anak kecil menggunakan kaos, orang dewasa ada yang menggunakan kemeja dan peci. Paling menarik justru ketika adegan dua orang bercakap-cakap. Komposisinya itu loh! Warga disusun membentuk piramida, mata mereka melihat ke arah yang sama. Tampaknya Lilik sengaja mencari gundukan di lokasi shooting supaya pemainnya bisa ia susun sedemikian rupa. Ini menjadi bukti bahwa Lilik adalah sutradara terniat, memikirkan detail supaya semua hal tampak rampak di depan kamera.

Gambar ini sendiri mengingatkanku dengan gambar Nawi Ismail dalam Benyamin Tukang Ngibul maupun Samson Betawi. Adegan saat Benyamin (baik sebagai Beni maupun Samson) melakukan pertunjukan di depan umum. Nawi mengambil wajah warga yang antusias melihat pertunjukan tersebut. Suasana yang demikian juga ada dalam film Federico Fellini dalam La Strada (1954), saat dua tokoh utama melakukan sirkus keliling. Bagiku ini bisa berakhir menjadi generalized image karena toh sebenarnya ia lebih banyak muncul di film berita ataupun dokumentasi suatu perhelatan. Seperti yang aku lihat dalam kultursinema 2018, ada banyak gambar yang menunjukkan pula antusiasme warga saat melihat pertandingan GANEFO 1962. Tetapi dari pemakaian generalized image ini ada hal yang lebih dalam bisa digali, terutama mengenai sejarah film Indonesia. Bisa saja Nawi yang pernah bekerja sebagai editor Nanpo Hodo semakin gemar mengambil gambar antusiasme warga dalam melihat suatu tontonan ke dalam film fiksinya. Bisa saja Nawi dan Lilik yang pada tahun 1970-an pernah tergabung dalam PT. Adhi Yasa Film saling bertukar ide, dan membicarakan gambar demikian lebih lanjut. Bisa saja wacana film neo-realisme Italia yang marak dibicarakan pada tahun 1954 berimbas pula pada pemakaian gambar ini dalam film fiksi. Semuanya serba mungkin untuk ditelaah lebih lanjut dengan bekal gambar semacam ini.

Selain mengingatkanku pada sejarah sinema, gambar ini juga membuatku bisa memahami lebih dekat mengenai situasi pada tahun 1980-an. Mengapa warga antusias melihat arak-arak pengantin? Sesederhana karena pada zaman dulu, televisi masih menjadi hal yang sangat mewah, sehingga ketika ada tontonan semacam ini, orang-orang akan berbondong-bondong mendatanginya.

What a wow! (Ratu Ilmu Hitam, 1981)

Murni dan Gendon berlatih di atas bukit.

Sumpah, ceu! Gua nganga liat gambar ini! Gambar ini berada dalam sekuen Gendon menurunkan ilmu hitam pada Murni. Digambarkan, Murni dan Gendon harus telanjang untuk mempraktikkan ilmu ini. Aku melihat Murni meloncat-loncat, dengan latar belakang bulan martabak super, bulat. Ini mirip seperti saat Yoko dan Bibi Lung berlatih dalam film seri Pendekar Rajawali. Mungkin Gendon sedang menurunkan ilmu meringankan tubuh, membuat Murni nantinya makin mudah untuk berpindah tempat dalam adegan selanjutnya. Nah, yang membuat aku menganga adalah niat Lilik yang begitu besar untuk mengambil adegan ini. Mungkin efek komputer, mungkin pula tim artistik membuat bulan tiruan yang ditempatkan secara sengaja sebagai latar. Kemudian dari cara pengambilan gambar, aku yakin kamera berada di tempat jauh dan dia still dalam beberapa detik hanya untuk membekukan loncatan Murni. Mungkin di bawah Suzzanna/ Murni ataupun pemeran pengganti terdapat trampolin yang membuat loncatannya begitu rampak. Efeknya wow! Siluet kibasan rambut Murni. Pose Murni saat dia meloncat. Indah aja gitu. Indah bagai seri lukisan~

Kemudian, yang masih menjadi catatan untukku sendiri adalah penggunaan bulan purnama super. Apakah memang film Indonesia, terutama yang menceritakan kisah silat juga mengharuskan penggunaan bulan semacam ini? Ataukah kekuatan ‘bulan’ dan ‘malam’ memang diperuntukkan untuk menguatkan citra ‘orang jahat’ dalam sebuah cerita? Karena aku sendiri menemukan penggunaan bulan super dalam Wiro Sableng 212, saat Mahesa Birawa selaku antagonis hendak menyerang keluarga Wiro. Pengambilan gambarnya memang lain. Apakah kode semacam ini memang sudah mapan untuk dilekatkan pada tokoh antagonis dalam cerita?

Seri Gambar Suzzanna.

Cantik banget! Raut Suzzanna yang puas tanpa desahan. Pasrah tanpa kepasrahan. Sorot matanya tajam. Lekuk tubuhnya. Tonjolan tulang punggungnya. Aku dibiarkan larut untuk berlama-lama memandangi detail yang ada dalam tubuh Suzzanna. Di sini Lilik bermain-main dengan gambar yang mengundang birahi. Bukan birahi untuk menyetubuhi, tetapi birahi yang membawa bahaya. Aspek Suzzanna yang memang pada masa itu sudah terkenal sebagai bom sex, mendadak berubah menjadi femme fatale. Dengan penghadiran Suzzanna sebagai idol dalam dirinya, kemudian dinaturalisasi oleh cerita, membawa suasana lain dalam Ratu Ilmu Hitam. Aku dihadapkan pada bibit kengerian. Suzzanna mampu menjadi alat, si pembawa pesan. Secara tidak sadar, penonton akan larut dihadapkan dengan keindahan bertubi-tubi dalam film, termasuk untuk larut memandangi Suzzanna. Kehadirannya sebenarnya digunakan untuk bisa dengan mudah menyebarkan ideologi dominan pada masa itu. Suzzanna menjadi contoh sebagai orang terbuang yang tidak akan diterima oleh sistem, meskipun ia sudah bertobat. Hal ini terbukti bahwa ia dimatikan di akhir cerita karena pernah bersinggungan dengan Gendon yang sama-sama orang terbuang. Ia menjadi contoh bagi penonton, “untuk tidak menjadi Suzanna”, untuk tunduk membiarkan sistem di masyarakat berlaku sesuai ketentuan yang berlaku.

Rumah Murni dibakar. Ibunya ditinggalkan di sana. Murni lalu dibuang ke jurang. Tidak ada yang lebih ampuh untuk menghilangkan barang buku dengan pembakaran. (Ratu Ilmu Hitam, 1981)

Rumah Murni dibakar.

Pernyataannya jelas. Murni dianggap sebagai tukang teluh oleh warga. Hingga akhirnya, tanpa pandang bulu, Murni ditangkap dan dibuang ke jurang. Rumahnya dibakar. Gambar ini secara langsung meneruskan mitos pembakaran penyihir yang terjadi di Eropa berabad-abad yang lalu. Ini bentuk hukuman bagi orang yang dianggap tidak menaati sistem yang berlaku. Dalam adegan Murni ditangkap, Lilik sendiri secara detail memperlihatkan kalapnya warga mulai dari menyiramkan bensin di dinding rumah. Obor digunakan untuk menyulut api di rumah ini. Pembakaran sendiri bisa diidentikkan dengan menghilangkan bukti suatu tindakan. Dan hal ini kemudian ditegaskan saat Kohar berbicara untuk meluluhlantahkan semua yang tertinggal, supaya tidak diproses oleh Lurah mertuanya.

Biru dan hitam mendominasi malam. (Ratu Ilmu Hitam, 1981)

Warga berjalan menuju jurang.

Ini adalah cara Lilik untuk menggambarkan suatu lanskap desa yang luas dan hampir tidak terjangkau. Desa ini masih dikelilingi jurang dan perbukitan. Warganya masih membawa obor, menandakan penerangan belum riuh memasuki desa ini. Kalau di Yogyakarta, mungkin ini seperti kawasan Selatan, Bantul dan Gunungkidul, atau Kulon Progo yang memang memiliki banyak bukit. Kalau diniatkan di Jawa Tengah, mungkin bisa di daerah Wonogiri ke timur.

Membayangkan Keluarga.

Murni mengambil bayi Baedah, istri Kohar. Ketika menimang si bayi, Murni membayangkan keluarga ideal, saat Kohar datang kemudian menggenggam tangannya. Sedetik kemudian gambar Kohar berubah menjadi Gendon. Nanar raut Suzzanna. Atas perintah Gendon, si bayi akhirnya kembali ke keluarga sebenarnya.

Dari seri gambar ini, Lilik seperti menghadirkan bayangan keluarga mainstream dan anti-mainstream. ‘Suzzanna’, ‘Gendon’, ‘anak’, ‘di dalam gua’ seperti ingin menunjukkan hasil dari konsep keluarga di luar kewajaran. Aku masih bisa bernapas lega ketika Kohar hadir menggenggam tangan Suzzanna. Mereka sama-sama ideal, baik dari segi umur dan pemakluman sejarah dua tokoh ini dalam cerita. Tetapi begitu Gendon menggantikan Kohar, aku akan berprasangka. Guru menikahi muridnya. Kakek menikahi perempuan masih ranum umurnya. Susah dicerna. Meski dalam realitas adalah biasa menjumpai kisah guru menikahi muridnya, tetapi Lilik menggambarkan hubungan semacam ini dengan unsur negatif. Raut Suzzanna buktinya.

Sedangkan ketika gambar Kohar dan keluarga kecilnya dihadirkan dalam gambar, pernyataan Lilik jelas. Inilah gambaran keluarga yang semestinya, yang sewajar-wajarnya. Semua tampak sumringah. Bahagia. Pemilihan warna menjadi penentu efek gambar ini bekerja. Dalam Suzzanna dan Gendon, pilihan warnanya cenderung “kotor”, dengan warna tanah dan warna cokelat lebih mendominasi, ditambah dengan kungkungan gua sebagai latarnya. Kemudian dalam gambar keluarga Kohar, warna putih mendominasi dengan pemanis kebaya merah jambu mertua Kohar. Putih identik dengan suci. Dan ini mewakili hubungan Kohar dan keluarganya sebagai keluarga suci, dalam artian sudah sah di depan agama dan negara.

 

Forcing into Motherhood, but…..

Selama empat puluh menit jalan cerita, aku dibuat untuk meyakini bahwa Suzzanna tidak memiliki pendirian. Ia dengan mudah dihasut Gendon. Tetapi ada satu adegan yang membulatkan keinginan Suzzanna yang sebenarnya. Ia ingin menjadi seorang ibu. Ketika melewati rumah Baedah, Suzzanna mengintip dari luar jendela, melihat kelekatan hubungan ibu dan anak. Ia ingin seperti itu. Dengan cara mengambil paksa, Suzzanna akhirnya bisa memeluk bayi tersebut, membiarkan perasaan sayangnya tumpah. Gambar Suzzanna mencium bayi dibuat semagis mungkin. Sama magisnya dengan gambar-gambar ‘ibu mencium anak’ lainnya. Mencium kening bayi sembari menutup kedua matanya, membiarkan ketulusan itu ditampakkan melalui pose menggendong bayi secara luwes. Momen ini membekukan gambaran bahwa semua perempuan bisa menjadi Ibu dan kodratnya memang menjadi Ibu.

Namun ketika Suzzanna menyusui bayi tersebut, gambaran Ibu yang tulus langsung luluh lantak. Disusul kemudian dengan gambar Suzzanna mengerang. Desahan Suzzanna karena bagian sensitifnya disentuh oleh bayi membuyarkan bekuan Suzanna sebagai ibu sebelumnya. Status keinginan perempuan ini menjadi ibu dipertanyakan. Di satu sisi, gambar ini seperti mengafirmasi pendapat Freud mengenai ibu yang mendapatkan kenikmatan karena proses laktasi. Di sisi lain, Lilik seperti ingin menegaskan bahwa tidak semua perempuan sanggup menjadi ibu. Dan penegasan ini akhirnya dibulatkan ketika Suzzanna menyetujui untuk mengembalikan bayi tersebut.

Suzzanna menjahit.

Terus terang aku cukup kaget mendapati gambar serupa dalam waktu berdekatan. Dalam Sundel Bolong sendiri, aku sudah menceritakan alasanku tertarik dengan gambar ‘perempuan menjahit. Begitu aku dihadapkan dengan gambar serupa, dan diperankan oleh tokoh yang sama, aku hanya bisa tertawa. Jangan-jangan memang sudah trademark Suzzanna harus muncul dengan adegan menjahit.

 

Murni menolak Gendon.

Sekali lagi aku dihadapkan pada kepiawaian tim artistik dalam membangun properti yang sanggup menunjukkan pernyataan. Rumah Gendon disusun dari kayu dengan ukuran tak sama. Di dalamnya “kering” dan gelap. Begitu Gendon mengajak Murni untuk membalaskan dendamnya ke seluruh desa, hingga nantinya mereka berdua bisa memimpin di sana, Murni seperti ingin melarikan diri. Untuk menunjukkan ketidaksetujuan Murni, tembok kayu digunakan sebagai penghalang, pemberi jarak antara dirinya dengan Gendon. Aku melihat Murni sebenarnya memilih kehidupan dari caranya mengambil bunga melati. Pohon melati yang hadir dalam gambar juga bisa berfungsi sebagai sebuah pernyataan, bahwa Murni masih mengharapkan kehidupan baik datang kepadanya. Gendon hanya menunduk, seperti enggan mendengarkan impian Murni.

Suzzanna, bunga melati, dan kebaya merah.

Gambar pertama ada saat ke dua kalinya Murni meneror warga. Setelah berhasil melumpuhkan lawannya, Suzzanna makan bunga melati. Hal ini belum aku jumpai dalam Sundel Bolong. Apakah citra angker Suzzanna, yang gemar makan melati, dimulai dari gambar ini? Kemudian, saat Suzzanna beraksi, ia selalu mengenakan baju berwarna merah. Apakah film ini menempelkan warna merah sebagai warna kekuatan jahat? Apakah film ini hendak membawa penonton untuk menjauhi warna merah yang digunakan sebagai simbol Partai Demokrasi Indonesia kala itu?

Suzzanna tidak akan pernah memiliki keluarga. Kehadiran Permana dalam cerita dibuat semisterius mungkin. Adegan dalam film ini mulanya tidak mengizinkan Permana menceritakan tentang jati dirinya. Pria ini memiliki karakteristik santun, baik, pencari solusi, dan mampu memikat wanita, termasuk Suzzanna. Lilik menghadirkan adegan perjumpaan Murni dan Permana di sungai, dengan meminjam mitos dari Jaka Tarub. Kamera memperlihatkan seperti ada seseorang yang mengambil baju Murni, padahal ternyata aliran sungai tanpa sengaja menghanyutkannya. Permainan Lilik membuat montase membuat adegan ini tampak logis betul. Kemudian di sisi sungai yang lain, Permana menemukan baju Murni. Adegan perjumpaan ini dibuat semanis mungkin, dengan latar belakang hijaunya tumbuhan serta gemericik air sungai, menambah suasana syahdu. Lilik seperti ingin membawa penonton pada situasi lain yang jauh dari teror. Ia sedang memainkan ritme supaya penonton tidak terlalu larut dalam situasi menegangkan, saat Gendon dan Murni hadir dalam gambar. Di sini, Murni mengaku sebagai Seruni, mengambil identitas lain supaya Permana tidak mengetahui jati dirinya, termasuk memungkinkan cerita akan terus berlanjut. Maksudku di sini, apabila Murni mengaku sebagai Murni, mungkin cerita akan berakhir di sana. Permana dan Murni bisa hidup bahagia sebagai keluarga.

“Aku rela mati di tanganmu, Mas Permanaku. Mas Kliwonku. Kau adalah kakakku sekaligus kekasihku,” Suzzanna sebagai Murni.

Pada penghujung cerita, Lilik menggunakan flashback untuk menunjukkan bahwa Permana adalah Kliwon, kakak Murni yang menjadi anak angkat orang kota. Doeng… doeng… Jadi dari beberapa adegan sebelumnya, apakah Murni dan Permana hampir incest? Ternyata di sini Lilik cukup keras dalam menunjukkan sebuah kemustahilan percintaan dan posisinya dalam menatap hubungan incest. Korbannya adalah Suzzanna. Ini adalah hukuman atas perbuatannya meneror desa sekaligus hukuman karena menyatakan Permana adalah kakak sekaligus kekasihnya. Suzzanna dibiarkan tidak memiliki keluarga hingga akhir hayatnya. Ia bahkan tidak diizinkan merasakan pengalaman menjadi adik.

Di sini aku ingin sedikit berandai-andai. Mungkinkah keluarga Murni dan Permana merupakan penyintas 1965? Latar peristiwa ini berlangsung pada tahun 1980 di desa dengan kontur jurang di sekitarnya. Lilik tidak menceritakan perihal kematian Bapak Murni. Kemudian, dari cara orang desa memperlakukan ibu Murni, mereka tampak semena-mena, tidak perduli ia orang tua yang harus diperlakukan lebih baik. Penggambaran rumah Murni yang posisinya jauh dari desa, juga menguatkan asumsiku bahwa keluarga ini seperti “dibuang”. Nah, saat Permana dibawa pergi, kemungkinan itu belasan tahun yang lalu. Kalau memang digambarkan 15 tahun lalu, itu tepat saat peristiwa 1965. Kemudian adegan Kliwon dibawa seorang tokoh pemilik pesantren justru mengingatkanku pada cerita bahwa banyak Kyai, terutama berasal dari NU, yang melindungi para penyintas atau orang-orang tertuduh berhaluan kiri.

Gendon.

Kehadirannya dalam gambar selalu ditempeli dengan objek-objek “menyeramkan”. Saat ia melihat Suzzanna menyusui, di sampingnya terdapat ular berukuran besar juga turut mendominasi. Saat meneluh Permana dan Baedah, ia berpose menikmati ritual tersebut. Di belakangnya tersusun: tengkorak, membawa pesan kematian; caping, alat untuk menyaru supaya ia bisa memata-matai penduduk desa; Ia membawa dua boneka seukuran tangan untuk meneluh, sembari duduk santai, membayangkan skenario untuk Permana dan Baedah. Kemudian efek montase untuk menciptakan semacam tipuan, membawa penonton pada cerita bahwa teluh Gendon berhasil dan sejalan dengan cerita, terjelaskan dari jalinan gambar. Seolah teluh dan hasil teluhnya berjalan seiringan, linear, menjadi satu cerita utuh. Sedangkan gambar terakhir, penggunaan medium shot, selalu digunakan saat Gendon sedang menanamkan suatu gagasan. Kita bisa melihat gesturnya yang meyakinkan. Raut wajahnya yang keras. Serta mendengarkan suara Gendon, bertipe bulat dan lantang, meluberkan kewibawaan yang mampu merangkul semua orang. Membawa penonton pada bujukan.

“kau tidak akan diterima sebagai anggota masyarakat,” Gendon.

Ia selalu menekankan pada Suzzanna bahwa mereka berdua manusia terbuang dari sistem. Penekanan yang berulang-ulang untuk menanamkan ide pembalasan dendam, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Apa yang membuat karakter ini menaruh dendam sebegitu besar hingga ingin memusnahkan seluruh desa? Jawabannya ditemukan di akhir cerita. Gendon ternyata gagal menjadi lurah. Ia pernah mengirimkan teluh ke desa, namun gagal. Setelah berguru pada banyak guru teluh, Gendon melancarkan serangannya yang dimulai dalam adegan kegaduhan pernikahan Kohar dan Baedah. Merusak acara besar lurah yang telah mengalahkannya.

Bila melihat film ini secara keseluruhan, tokoh utama sepatutnya adalah Gendon, bukan Suzzanna. Dendamnya adalah bensin yang membuat kisah ini berjalan. Selain itu, dengan menekankan pada karakteristik Gendon, bisa dilihat dari cara film ini menggambarkan sistem seperti apa yang berlangsung di masyarakat dalam film. Desa yang hendak dibangun adalah desa taat hukum dan berbasis agama, hendak menghilangkan sistem kuno semacam penggunaan teluh. Kehadiran Gendon dan Suzzanna digambarkan akan merusak pembangunan semacam itu. Meskipun mereka sebenarnya dibuang oleh sistem itu sendiri, tetapi sistem tidak memiliki ampun bagi mereka yang tidak mampu mengikuti aturan permainan di dalamnya. Hal ini ditekankan dengan kehadiran lurah yang menegaskan bahwa desa mereka adalah desa taat hukum. Gendon harus mengikuti hukum tersebut. Karena Gendon menolak dengan keras, akhirnya ia mati di tangan muridnya sendiri. Suzzanna pun demikian, mati sebagai orang terbuang. Yang tertinggal di desa adalah hukum dan tradisi untuk mengikuti jalan agama, serta surau yang sudah ramai diisi warga.

Bukan Catatan Akhir

Aku terperangkap. Gambar buatan Lilik Sudjio hanya memintaku untuk memandanginya saja, menikmati setiap detailnya. Lilik tidak memintaku untuk menginterpretasikannya. Ia sudah mencuri banyak kode, sehingga ketika kode tersebut hadir di hadapanku secara langsung, aku tidak berdaya. Aku larut dalam lautan gambar. Pesan yang disampaikan Lilik sudah lugas. Ia memanggilku untuk bisa patuh pada ideologi saat itu.

Melihat Ratu Ilmu Hitam secara keseluruhan, kemudian membandingkan dengan realitasku sekarang, aku mendapati bahwa efek yang ditimbulkan oleh film ini bisa bertahun lebih dari 30 tahun lamanya. Seperti yang sudah aku singgung di atas, cerita film ini sebenarnya sepele, perebutan menjadi lurah. Tetapi hal yang sepele ini mampu merasuk bertahun-tahun. Aku dulu pernah menertawakan kisruh pemilihan kepala dusun di tempatku. “Ini cuma jadi dukuh! Mengapa sampai harus menyumpahi kandindat lainnya, hingga memperebutkan tanah makam yang seharusnya menjadi hajat hidup orang banyak?” Begitu aku diingatkan oleh film ini, aku semakin sadar. Subjek yang hendak diciptakan oleh orang ini, bukanlah subjek yang memiliki cita-cita untuk menjadi “orang” di luar daerahnya. Desire hanya untuk menjadi lurah, pemimpin, perwakilan negara sebelum ia mencapai unit paling kecil yakni keluarga. Ajakan untuk menjadi pengontrol dalam tatanan paling bawah. Film ini tidak memberikan pilihan selain bahwa lurah adalah hal istimewa dan harus diperebutkan dengan beragam cara. Menjadi lurah adalah menjadi bagian dari negara.

Sedangkan dalam cara membaca, memberikan fokus pada gambar saja ternyata tidaklah cukup. Alih-alih bisa menyadari tipuan yang diberikan oleh film, aku malah semakin terperangkap untuk mengagumi detail gambar buatan Lilik. Cara membaca film ini akan lebih lengkap bila menggunakan analisis struktural naratif. Dengan demikian, bagaimana pesan dari film ini tersampaikan bisa dikelupas dengan lebih detail.

Catatan Kaki

[1] St. Sunardi (2012). Vodka dan Birahi Seorang Nabi. Jalasutra, hlm. 216.

[2] Ibid,. hlm. 215.

Leave a Reply