Sinema Klasik Indonesia: Lie Gie San Penata Kamera Terbaik FFI 1955 dan Belenggu Masyarakat (1953)

Lie Gie San membuat film Belenggu Masyarakat (1953)[1] bersama sutradara D. Suradjio. Selain bertindak sebagai sutradara, Lie Gie San juga bertindak sebagai penata kamera. Pada perhelatan Festival Film Indonesia pertama, tahun 1955, Lie Gie San mendapatkan anugerah sebagai Penata Kamera Terbaik untuk film Belenggu Masyarakat.

Bila membicarakan perhelatan FFI 1955, ingatan kita pasti kembali pada filem Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954) yang mendapatkan titel sebagai Film Terbaik. Selain itu, penata artistik Lewat Djam Malam, Chalid Arifin, mendapatkan penghargaan sebagai Tata Artistik Terbaik. Artikel dari Winaktu di Mimbar Indonesia, “Pesta Pilm Indonesia Jang Pertama” menyatakan bahwa perhelatan FFI 1955 dibuat untuk memilih film Indonesia terbaik yang akan diikutsertakan dalam Festival Film Asia Tenggara di Singapura.

Lebih jauh tentang Lewat Djam Malam

Sayangnya, film yang dinilai dalam perhelatan ini tidak banyak yang tersisa. Film terbaik yang lain karya Sutradara Terbaik FFI 1955 yakni Lilik Sudjio, Tarmina (1954) juga tak diketahui rimbanya. Keberadaan film Belenggu Masyarakat di Sinematek Indonesia tentunya menarik. Lewat film ini, kita bisa membayangkan bagaimana para pemrakarsa dan juri FFI 1955 melihat potensi dari karya Lie Gie San dan menjadikannya contoh sebagai film dengan kualitas teknis yang baik. Jika kontroversi seputar filem terbaik ternyata ujung-ujungnya sama, “Persari Menang Banyak!!!”[2], maka lewat capaian dari Lie Gie San sebagai sinematografer yang bukan dari Persari maupun Perfini, cerita tentang FFI 1955 bisa lebih berkembang.

Tentang Lie Gie San

Saat melihat Belenggu Masyarakat, nama Lie Gie San rasanya tak asing bagi saya. Dari halaman filmindonesia.or.id, sebelum debut jadi sutradara, Lie Gie San adalah sinematografer untuk beberapa film produksi Perusahaan Film Negara untuk film karya dr. Huyung dan Basuki Effendy.

Bersama dengan dr. Huyung, Lie Gie San menjadi operator kamera untuk film Frieda (1950) dan Kenangan Masa (1952). Kemudian ia menjadi penata kamera untuk film Bunga Rumah Makan (1952), film adaptasi dari sandiwara satu babak karya Utuy Tatang Sontani. Sedangkan bersama Basuki Effendy, Lie Gie San menjadi penata kamera untuk film Pulang (1952). Film ini mendapat penghargaan dari Festival Film Internasional Carlovy Vary. (Tentang film Pulang karya Basuki Effendy)

Posisi Lie Gie San di Perusahaan Film Negara (PFN) tampaknya stabil. Untuk pembuatan film fiksi, setidaknya Lie Gie San telah membuat delapan judul film. Namun pekerjaan ini bisa saja bertambah karena PFN sendiri juga dikenal sering membuat film dokumenter. Bisa saja Lie Gie San telah bergabung dengan BUMN ini semenjak era Berita Film Indonesia (BFI) yang mengabdikan diri untuk merekam perjuangan Indonesia selama Perang Revolusi 1945 – 1949. Menurut Mimbar Penerangan Volume 12, Lie Gie San tercatat sebagai Pd. Kepala Bagian Teknik/ Perlengkapan di Perusahaan Film Negara pada tahun 1961. Bila kita mengetik kata kunci “Lie Gie San”, maka akan ada nama lain yakni Ali Bukhari. Sehingga, kemungkinan, Lie Gie San masih sempat hidup selama masa Orde Baru dan mengganti namanya dengan Ali Bukhari.

Lie Gie San Belenggu Masyarakat
Adegan saat Suparto mendapati selingkuhannya menerima tamu. Belenggu Masyarakat (1953)
Lie Gie San Sebagai Sinematografer Terbaik FFI 1955

Tahun 1955 merupakan tahun penting dalam sejarah Indonesia. Pemilihan Umum pertama kali berlangsung. Industri film juga semakin semarak dengan semangat merepresentasikan nasionalisme sekaligus mengeksplorasi cara tutur baru dalam layar. Pembuat film yang dulunya menjadi asisten, kru, ataupun laborant di perusahaan milik The Teng Chun, Tan’s Film, Multi Film, maupun Nippon Eiga Sha, perlahan naik tingkat menjadi sutradara. Film maupun perusahaan film yang dibuat juga bervariasi. (Tentang dr. Huyung dan Nippon Eiga Sha)

Dalam perhelatan FFI 1955, saat Djamaluddin Malik selaku CEO Persari menyumbang modal untuk pesta ini, setidaknya ada tiga perusahaan film yang mendapatkan banyak penghargaan. Pertama jelas saja milik Persari, perusahaan yang sebelumnya berani untuk melakukan studi banding ke studio LVN Manila – membawa kru seperti Rempo Urip maupun Nawi Ismail untuk joint production dalam film Rodrigo de Villa (1952). Selanjutnya Perfini sudah makin mapan sekembalinya Usmar Ismail dari Amerika Serikat. Perfini sudah bisa membangun studio filmnya sendiri dan membeli peralatan pembuatan film yang lebih baik. Terakhir tentu saja PFN yang memiliki kru handal dalam hal teknis karena pegawainya pernah menimba ilmu pembuatan film di Nippon Eiga Sha maupun Multi Film seperti H.B. Angin (penata artistik), Nawi Ismail (sutradara), dan ikut andil dalam mengembangkan bakat sutradara muda seperti Basuki Effendy (muridnya Kotot Sukardi).

Belenggu Masyarakat mengisahkan seorang pegawai negeri sipil asal Purwokerto bernama Suparto. Saat bertugas di Jakarta, Suparto bertemu dengan Harjiman, importir penjual lisensi, yang memperkenalnnya dengan Roostinah. Tersilap hidup hedonis dan perempuan muda, Suparto meninggalkan istri dan tiga anaknya. Aksi suap Suparto dan Harjiman ketahuan. Kalau menggunakan bahasa KPK, Suparto kena OTT (Operasi Tangkap Tangan). Jelas saja Suparto masuk bui. Begitu keluar dari bui, Suparto menebus dosa menjadi transmigran. Setelah sukses, ia kembali pangkuan istri yang setia menunggu.

Film Belenggu Masyarakat memang tidak memiliki narasi mendalam dan eksplorasi psikologis karakter paska Perang Revolusi selayaknya Lewat Djam Malam. Jalan untuk menempuh resolusi memang terkesan terlalu terburu-buru. Misalnya saja dalam adegan saat Suparto keluar dari bui, tiba-tiba saja muncul seseorang yang menawarkan pekerjaan sebagai kuli pelabuhan. Kemudian saat menggarap sawah transmigrasi, dalam beberapa menit, kesuksesan sebagai transmigran tercapai dan Suparto menjadi pimpinan transmigrasi tersebut. Adegan akhir pun demikian. Tanpa banyak keluhan, istri Suparto menerima kembali kehadiran suami yang telah menebus dosa, menjadi manusia baru di luar Jawa.

Menilik sepak terjang Lie Gie San, tidak heran apabila ia bisa mendapatkan penghargaan sebagai penata kamera terbaik. Sebagai penata kamera, Lie Gie San tahu bagaimana membangun makna lewat jalinan shot atau montase, tanpa perlu bertele-tele dengan dialog layaknya film Usmar Ismail. Misalnya saja lewat shot asbak berisi puntung rokok yang lain kemudian kamera membidik perubahan raut wajah Suparto, penonton akan langsung menyimpulkan bahwa Roostinah, sang perempuan lain, telah menerima “tamu”. Kemudian bidikan Lie Gie San juga terukur. Misalnya saja dalam adegan saat Suparto menjadi kuli pelabuhan, gambar yang disajikan adalah suasana pelabuhan lengkap dengan kapal dan muatan yang berlalu lalang. Bidikan pertama adalah crane yang membawa muatan. Bidikan kedua adalah Suparto yang menyunggi barang. Dan akhirnya ending dari bidikan ini adalah muatan crane jatuh ke arah Suparto.

Coda

Saat industri film Indonesia masih seumur jagung, menemukan pembuat film yang memiliki ukuran tertentu dan pengalaman mendalam akan kerja kamera memang susah. Perfini, meskipun sudah memiliki Max Tera yang pernah bekerja di Multi Film sebagai asisten dari AA Denninghoff-Stelling, tetapi ia belum bisa menunjukkan shot terukur karena pembuatan filmnya masih didominasi oleh mata panggung dari sudut pandang Usmar Ismail. Lie Gie San sendiri kemungkinan besar mendapatkan pemahaman teknis tentang film saat ia bekerja dengan dr. Huyung dalam beberapa produksi sebelum Belenggu Masyarakat. Selain Lie Gie San, “murid” Huyung lainnya adalah Nawi Ismail yang aktif berkolaborasi dengan Benyamin Sueb dalam beberapa film komedi semasa Orde Baru.

Belenggu Masyarakat (1953)

Sutradara: Lie Gie San dan D. Suradjio | Cerita: Syamsuddin Syafei | Produser: Wahju Hidayat | Penata Kamera: Lie Gie San | Editor Suara: Dick Ninkeula | Penata Gambar: A. Sapari | Pemeran: Amran S Mouna, S. Bono, Wahid Chan, Roes Boestami, Lies Permana Lestari | Mimi Mariani | Genre: Drama | Produksi: Raksi Seni dan Perusahaan Film Negara


[1] Judul menurut ejaan lama adalah Belenggu Masjarakat

[2] Film Tarmina merupakan buah produksi Persari dengan CEO Djamaluddin Malik. Meskipun Lewat Djam Malam merupakan produksi Perfini, tetapi jangan lupa bahwa ada andil Persari di dalamnya. Djamaluddin Malik bertindak sebagai produser. Selain itu, aktor Persari seperti Netty Herawati juga turut berperan sebagai pemain dalam Lewat Djam Malam.

Leave a Reply