Sinema Klasik Indonesia: Si Melati Karya Basuki Effendy

Si Melati (1954) merupakan film anak buatan Basuki Effendy. Selain dikenal sebagai sutradara Perusahaan Film Negara (PFN), Basuki Effendy juga bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) pada pertengahan tahun 1950-an. Dalam Si Melati , Kotot Sukardi (guru Basuki Effendy) berperan sebagai penulis naskah. Si Melati mengeksplorasi pedagogik penggunaan cerita untuk pendidikan anak yang dikembangkan oleh Pak Kasur dan Bu Kasur.

Dwarapala atau arca penjaga gerbang pura menjadi pembuka. Lamat-lamat musik khas Bali terdengar, bersahutan dengan suara seorang perempuan yang menceritakan kisah si Melati. Gadis kecil ini harus hidup bersama Ibu tiri dan kakak tiri yang bernama Kecubung.  Melati diminta untuk menumbuk beras. Capek ia rasa hingga ketiduran. Kecubung mengambil-alih pekerjaan Melati dan menyatakan bahwa dia yang menyelesaikan semua pekerjaan domestik tersebut. Ibu tiri marah, langsung menghajar tokoh utama kita, si Melati.

Adegan berganti. Sekelompok anak perempuan duduk melingkar di bawah pohon. Perhatian mereka terpusat pada sosok perempuan yang sedang bercerita tentang kisah si Melati. Perempuan ini mengenakan baju pramuka. Meski film si Melati  berwarna hitam-putih, namun bibir perempuan ini merona. Ia mendongeng, anak-anak perempuan di depannya mendengarkan saksama.

Sosok yang sedang mendongeng tersebut adalah Sandiah atau yang dikenal sebagai Bu Kasur. Ia memiliki suami bernama Soerjono, atau Pak Kasur. Baik Bu dan Pak Kasur merupakan seniman, pencipta lagu, dan tokoh pendidikan di Indonesia. Power couple ini telah melewati beberapa masa seperti penjajahan Jepang, masa Revolusi, aktif di Radio Republik Indonesia selama Orde Lama, kemudian lagu ciptaan mereka didengangkan oleh anak-anak selama Orde Baru hingga sekarang. Selain dikenal sebagai tokoh pendidik, Bu Kasur juga pernah menjadi pengasuh di sebuah rubrik majalah Bocil.

Melati namanya

Kecubung kakak tirinya

Ibu tiri Melati sering menghajarnya

Menangis kemudian

Melati di pangkuan Nenek penjaga Pura

Pulang-pulang Melati membawa emas

Karma menghampiri Ibu dan Kecubung

Melati akhirnya menjadi permaisuri Raja

Dongeng si Melati dan si Kecubung merupakan folklor lisan populer di Nusantara. Karakteristik folklor lisan cukup cair, bergantung pada informan yang leluasa untuk  memberikan judul sesukanya. Sehingga, pembaca bisa mengaitkan persebaran dongeng ini bila membandingkan dengan kisah lain yang serupa seperti Cinderella, si Bawang Merah dan Bawang Putih, atau I Kesuna lan I Bawang di Bali.

Bila legenda menitikberatkan pada sejarah kolektif (folk history), maka dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Mengutip Danandjaya, “dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran.”[1]

Lalu bagaimana Basuki Effendy menyampaikan aspek folklor dalam film si Melati? Penonton macam apa yang disasar oleh si Melati? Kemudian pesan moral seperti apa yang muncul dalam film ini?

Basuki Effendy Si Melati
Melati saat mencari kain cucian yang hanyut di sungai.
Basuki Effendy Si Melati
Menggunakan superimposition Basuki Effendy menghadirkan sosok hantu Ibu Melati yang menjadi penjaga.
Basuki Effendy Si Melati
Ibu Kasur (kanan) sebagai Ibu Pandu dan Sriati (kiri) yang sedang mendengarkan cerita.
Basuki Effendy Si Melati
Mirip dengan lukisan Hendra ya? Melati dan Nenek Penjaga Pura beserta monyet-monyetnya.

Si Melati dan Representasi Perempuan Terpelajar

Bila menilik ke belakang, jelas sosok pemuda, baik yang sifatnya sebagai pembaharu, revolusioner, dan terpelajar selalu hadir dalam film Indonesia produksi tahun 1950an. Film awal Basuki Effendy yakni Pulang (1952) menyampaikan bagaimana seorang pemuda bisa terlepas dari trauma perang sehingga ia bisa berkontribusi untuk negara sebagai seorang mantri. Kemudian film pertama gurunya, Kotot Sukardi, dengan judul si Pintjang (1951) juga menunjukkan representasi anak laki-laki korban perang, anak terbuang dari masyarakat, yang akhirnya bisa turut berjuang menjaga kemerdekaan.

Tidak hanya film produksi PFN saja. Bila kita melihat film Perfini awal seperti Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Djogja (1951), Embun (1952), maupun Terimalah Laguku (1952), tokoh utama selalu laki-laki yang berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia maupun memperjuangkannya. Film-film semacam ini selaras dengan contoh yang dikemukakan oleh Ben Anderson baik dalam Imagined Communities maupun Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944 – 1946. Sosok lelaki menjadi penggawa terdepan hingga kemudian ia dimitoskan lewat film, bahwa hanya lelaki yang mengalami trauma paska perang.

Baca tentang Perfini

Meskipun sudah ada film yang berusaha untuk menampilkan sosok perempuan yang mau bahu membahu dalam perang seperti karya Dr. Huyung, Frieda (1951), kemudian disusul oleh beberapa film yang menampilkan sosok perempuan terpelajar seperti Asrama Dara (1958), namun tetap perempuan berada sebagai bayang-bayang laki-laki si tokoh utama. Frieda dan Nyonya Abidin dalam Frieda akhirnya bisa memiliki posisi sebagai perempuan pejuang karena mereka tergugah oleh sosok ideal karakter utama, Abidin, seorang dokter yang juga aktif dalam sebagai pejuang revolusi. Kemudian dalam Asrama Dara, Usmar Ismail selaku sutradara memang menampilkan sosok perempuan modern yang bisa menjadi dokter atau koreografer tari, namun tetap mereka harus tunduk pada laki-laki.

Berbeda dengan dua Frieda maupun Asrama Dara, alur si Melati didorong oleh para karakter perempuan. Sesekali sosok lelaki muncul, namun ia bukan yang utama. Tidak ada narasi yang menggebu-gebu untuk membicarakan pentingnya sosok perempuan terpelajar.  Alur Si Melati justru lebih tenang, berusaha untuk menyampaikan pesan kebaikan lewat editing yang serupa dengan film The Teng Chun, memasukkan unsur magic lewat gambar. Kemudian untuk aspek sinematografi yang dipegang oleh R.H.J. Ganda, si Melati mengingatkan saya pada beberapa shot dalam film Pareh (Albert Balink dan Mannus Franken, 1936) dengan sinematografer Mannus Franken, Joshua Wong, dan Othniel Wong yang diproduksi oleh Java Pacific Film. Rumah produksi ini merupakan cikal bakal ANIF yang kemudian berubah nama menjadi PFN pada tahun 1950.

Penggunaan juktaposisi, membandingkan dunia dongeng Si Melati dan Si Kecubung dengan dunia di mana Ibu Kasur yang hidup di tahun 1950an, merupakan upaya untuk perlahan menanamkan gagasan relasi Ibu – Anak dan pendidikan. Bila dalam film Meratjun Sukma (Bachtiar Effendi, 1953),  PFN selaku rumah produksi memberikan efek disaster atas perilaku buruk Ibu Tiri pada anak, maka Si Melati menjadi cara untuk menggambarkan rekonsiliasi demi kehidupan yang lebih baik. Selesai mengisahkan Si Melati dan Si Kecubung, adegan kemudian beralih pada seorang anak perempuan bernama Sriati. Bu Kasur memberikan kesimpulan, “kawanmu Sriati ini adalah Melati juga.” Sontak kawan-kawan Sriati langsung meminta maaf, penanda bahwa folklore dalam film si Melati telah berhasil untuk menanamkan empati pada anak-anak.

Baca Review Meratjun Sukma

Basuki Effendy Si Melati
Buku Ibu dan Anak yang membuat Ibu tiri Sriati bertobat.

Selain aspek empati, tujuan lain dari film ini tak lain tak bukan adalah pendidikan bagi perempuan. Narator laki-laki di akhir film, saat adegan Sriati berjalan menuju kepanduan (pramuka) berkata, “Ia tidak akan terlambat lagi kepanduan. Ia akan cukup mempunyai waktu belajar dan rapotnya tentu akan baik… Tumpahkanlah dia ke alam manusia yang layak.” Kesimpulan narator ini seolah memberikan gambaran pada penonton bahwa sebelumnya Sriati yang juga Melati tidak memiliki lingkungan pendukung supaya ia bisa sekolah. Ditambah dengan adegan saat Ibu tiri Sriati beranjak insaf setelah membaca buku Ibu dan Anak lalu mempersilakan Sriati untuk pergi ke kepanduan, menjadi penegas bahwa film si Melati ditujukan untuk anak-anak perempuan dan juga keluarga yang menganggap bahwa perempuan tidak perlu sekolah.

Susan Blackburn dalam Women and The State in Modern Indonesia menyatakan bahwa semenjak proklamasi kemerdekaan 1945, pemerintah Indonesia berkomitmen menunjukkan kesetaraan dalam mengakses pendidikan baik bagi anak laki-laki maupun perempuan. Blackburn melacak bahwa kebijakan ini berasal dorongan dari para perempuan pemikir dan perempuan semasa kolonial, tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Dalam kongres perempuan pertama pada tahun 1929 misalnya, Siti Sundari menulis pidato, “tugas wanita muda sekarang adalah meminta pendidikan yang ditujukan untuk kemerdekaan dan kebebasan.” [2] Dengan demikian, si Melati bisa dilihat sebagai upaya dari kaki tangan pemerintah Orde Lama, PFN, untuk menunjukkan itikad baiknya dalam memposisikan perempuan bisa setara dalam mengakses pendidikan.

Si Melati (1952)

Melati hidup bersama ibu tiri dan saudara tiri, Kecubung. Biar selalu mendapat perlakuan yang buruk, Melati tak putus-putus berdoa. Suatu kali pakaian yang sedang dicucinya hanyut, Melati mencari dengan mengikuti arus. Tiba di rumah seorang nenek di tengah hutan, kain kembali, ditambah buah yang ternyata berisi permata. Kecubung ingin permata juga, lalu mengikuti apa yang diperbuat Melati. Ternyata nenek tidak memberi buah, Kecubung mencurinya. Ternyata isinya… ular! Kecubung mati digigit ular itu. (sumber: ANRI)

Sutradara: Basuki Effendy | Penulis Naskah: Kotot Sukardi | Sinematografer: R.H.J. Ganda dan H.M. Taba | Montase: Sujadi | Suara: M. Tabrani | Penyelenggara: S. Bagjo Darsono | Make-up: Lumongga | Laboratorium: T.A. Chatib | Supervisor: R.M. Harjoto| Pemeran: Nuraini, Musinah, Ningsih, Marliah Hardy, Bu Kasur, Sulastri, Komariah | Genre: Film Anak | Rumah Produksi: Perusahaan Film Negara


[1] James Dananjaja merupakan antropolog dari Universitas Indonesia yang fokus pada folklor Nusantara sekaligus metode pengarsipan folklore di Indonesia. Lebih jauh tentang karya Dananjaja bisa dilihat di Dananjaja, James. Folklor Indonesia. 1986. Jakarta: Pustaka Gafitipers.

[2] Blackburn, Susan. Women and The State in Modern Indonesia. 2000. Cambridge University Press. Link.

Leave a Reply