Site Overlay

Asih: Permulaan Kuntilanak dalam Semesta Danur

Sebagai cerita lepas yang masih terikat dengan Danur (2017), Asih diniatkan untuk fokus pada sosok perempuan (diperankan Shareefa Daanish) yang akhirnya menjadi hantu. Ini seperti film Ringu Zero (Norio Tsuruta, 2000) yang menjelaskan muasal Sadako sehingga ia bisa meneror dalam trilogi The Ring. Asih sendiri masih diangkat dari novel dengan judul yang sama karangan Risa Saraswati, serta disutradarai oleh Awi Suryadi.

Asih diceritakan mengalami baby blues karena masyarakat menganggap kehadirannya sebagai aib. Ia memiliki anak di luar pernikahan tanpa diketahui siapa bapaknya. Setelah membunuh anaknya, Asih bunuh diri di sebuah pohon besar. Pada saat yang bersamaan, terdapat sebuah keluarga sedang menanti kehadiran anak. Mendadak, kehidupan keluarga ini berubah ketika anaknya lahir satu bulan lebih awal. Sang Nenek (diperankan Marini Soerjosoemarno), menderita dementia akut, yang membuatnya tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Sang istri bernama Puspita (diperankan Citra Kirana) dihinggapi kecemasan karena produksi ASI-nya kurang dan suasana rumah yang berubah. Sang suami bernama Andi (diperankan Darius Sinathrya) tampak tidak sigap sehingga melupakan prosesi penguburan ari-ari. Ketika keluarga kecil ini diganggu oleh Asih yang mencari anaknya, kengerian menghampiri. Asih mengambil Amelia yang ia kira anaknya sendiri. Dengan bantuan dukun (diperankan Alex Abbad) yang juga mendalami ilmu agama, akhirnya Andi bisa membawa kembali bayinya. Asih diminta mengikhlaskan kepergian anaknya dan memaafkan masyarakat yang tidak menerima dirinya.

Latar tempat yang dipilih dalam Asih adalah kawasan Bandung. Rumah tokoh utama berada di dataran tinggi, seperti rumah yang dibuat pada masa penjajahan Belanda dengan banyak jendela dan satu ruang utama yang lega. Latar waktu cerita ini berlangsung pada tahun 1980-an, saat yang sama ketika film horor yang dibintangi Suzanna meramaikan industri film Indonesia. Rumah tokoh utama digambarkan memiliki jarak yang jauh dengan rumah tetangga seolah ingin membangun lingkungan rumah yang jauh dari masyarakat. Cerita film yang bisa dibagi ke dalam tiga babak: kelahiran, gangguan, dan penyelesaian, kebanyakan berlangsung di dalam rumah ini.

Tidak ada yang istimewa dalam pengadeganan Asih. Untuk menimbulkan efek seram, penggunaan make-up untuk Asih dan latar suara yang identik dengan kehadiran hantu masih dominan. Sedangkan penggunaan jump scare terbilang minim. Inilah yang membuat Asih terkesan nanggung. Apakah film ini ingin mengangkat drama baby blues yang dialami Asih? Apakah film ini ingin menghadirkan sosok kuntilanak yang menyeramkan? Atau, apakah film ini ingin mengangkat keluarga Andi yang mampu mengatasi kehadiran kuntilanak? Ketidakjelasan masalah yang hendak diangkat membuat cerita Asih tidak matang. Ditambah dengan keinginan untuk menyampaikan banyak isu tanpa adanya kebulatan cerita, serta keinginan untuk menampilkan sisi komedi dari penghadiran satpam dan penjual nasi goreng selaku perwakilan masyarakat, membuat film ini seperti gado-gado setengah matang yang tawar.

What a perfect family! Andi, Puspita, dan Ibu Andi menanti kelahiran Amelia. (Asih, 2018)

Kemudian, kode-kode kultural mengenai kuntilanak dihadirkan melalui dialog, bahkan cenderung tidak dieskplorasi lebih jauh. Film ini seolah ingin mengolok-olok kemampuan penonton, mengandaikan penonton sebagai sebuah kelompok yang tidak mengetahui sejarah kuntilanak di masyarakat. Kehadiran bidan (diperankan Djenar Maesa Ayu) pada pertengahan cerita difungsikan untuk memberi tahu tokoh utama (sekaligus penonton) mengenai hantu wanita yang kehilangan bayinya, pamali yang dipercayai masyarakat setempat, dan kegunaan gunting untuk menghalau kuntilanak. Hal demikian menyebabkan film ini kekurangan imajinasi, kehilangan aspek visual atau cara lain untuk membicarakan hal-hal yang memang lumrah didengar di masyarakat.

Tulisan ini sendiri diniatkan sebagai catatan untuk melihat cara Asih menyampaikan idenya mengenai sosok kuntilanak. Perbandingan dengan film horor lainnya tetap dilakukan untuk membantu menyisir kembali maksud dari penggunaan teknik dalam film dan fungsinya dalam memitoskan kuntilanak. Apakah film ini mampu membuat mitos baru mengenai kuntilanak? Apakah film ini hanya mengulang-ulang cerita kuntilanak atau justru terjebak dalam memiskinkan ide mengenai sosok hantu perempuan ini? Semua ini akan terjelaskan dengan penjabaran yang ada dalam unsur intrinsik Asih.

Baby Blues Disandingkan dengan Kampanye ASI

Seorang perempuan menangis, menyanyikan lagu indung-indung. Ia memandikan bayi. Kamera menangkap kepolosan bayi yang berada di dalam ember, hingga kemudian ia semakin menjauh, menandakan bahwa bayi itu telah tiada. Sosok perempuan ini kemudian berjalan sembari mengulang-ulang lagu indung-indung. Sesampainya di bawah pohon besar, ia mengambil sisir yang kemudian digunakan untuk mengiris tangannya sendiri. Gambar kemudian dissolve.

Saya sempat bersemangat ketika menonton adegan pembuka ini. Premis yang ditawarkan Asih menurut saya cukup segar dan kontekstual dengan situasi sekarang ketika baby blues diwacanakan secara masif. Dari gambar tersebut, saya menangkap bahwa Asih menjadi hantu karena ia mengalami baby blues. Karena ini pula, ia tanpa sadar menghilangkan nyawa anaknya sendiri. Hingga depresi itu memuncak, Asih memutuskan untuk bunuh diri. Ia bangkit dari alam kematian semata-mata untuk mencari anaknya yang dianggap hilang. Gambar pembuka ini jelas berbeda dengan cerita mengenai hantu perempuan yang menghilangkan aspek mental illness dan lebih menekankan dendam tokoh perempuan. Dalam film Suzanna Beranak dalam Kubur (Awaluddin dan Ali Shahab, 1972) misalnya, Suzanna digambarkan menjadi hantu untuk membalaskan dendamnya karena diperlakukan “tidak manusiawi”. Tentu dengan isu baby blues ini, Asih sebenarnya memiliki potensi untuk berbeda dengan cerita kuntilanak yang hanya menekankan pada dendam tokoh utama semata.

Kemudian, ketika sekuen pembuka berganti dengan sekuen keluarga Andi, pada titik inilah saya merasakan kekecewaan yang begitu besar. Saya pikir saya akan dibawa pada cerita Asih sebelum ia bisa mengalami depresi. Saya pikir saya akan diajak untuk menyelami kekuatan dendam yang menyebabkan Asih mampu meneror Danur. Asih ternyata tidak memberi tahu saya sebagai penonton mengenai siapa dan bagaimana transformasi perasaan perempuan yang nantinya menjadi kuntilanak ini. Kemudian kehadiran sisir yang digunakan Asih untuk membunuh dirinya sendiri juga tidak diperdalam. Padahal sisir ini memiliki potensi sebagai medium perantara, objek yang akan mengingatkan pada kehadiran si tokoh ketika ia dimunculkan lagi ke dalam cerita.

Kesedihan Asih karena ditolak masyarakat. (Asih, 2018)

Dengan tidak adanya cerita mengenai sisir sebagai objek yang memiliki sejarahnya sendiri, Asih terkesan terburu-buru dan inilah yang tidak mematangkannya sebagai film. Sisir sebagai medium memiliki fungsi tidak hanya dalam film ini, tetapi juga pada film Danur. Penggunaan sisir ini jelas berbeda dengan sisir yang ada dalam Trilogi the Ring yang sempat disinggung di atas. Penonton diajak untuk mengetahui fungsi sisir ini sebagai objek traumatis, justru ketika sutradaranya membuat adegan Ibu Sadako menyisir rambut secara dramatis. Ketika adegan menyisir rambut ini diperlihatkan berulang-ulang melalui VCR yang tersebar, efeknya adalah objek ini mampu menjadi hal yang selalu muncul dan membawa teror. Ketika adegan menyisir rambut dibawa kembali dalam Asih, saat Puspita menggunakan sisir yang ia temukan di lantai, ini tidak membawa efek apapun karena penjelasan baik lewat dialog maupun gambar flashback mengenai kehadiran sisir tidak dihadirkan sama-sekali.

Selain cerita mengenai Asih yang mengalami baby blues, perihal Puspita yang kejiwaannya digambarkan terganggu setelah kelahiran Amelia yang prematur juga menarik perhatian saya. Ada dua adegan ketika Puspita berwajah sedih karena hasil pompa ASI-nya sedikit. Adegan kemudian tersambung dengan kehadiran bidan yang bertandang ke rumah untuk memberitahukan dalil Al Qur’an mengenai pemberian ASI minimal dua tahun serta pamali yang ada di masyarakat. Justru setelah bidan hadir, Puspita berani memarahi mertuanya dan ia mengalami hal-hal yang di luar nalar. Puspita mulai bisa melihat Asih dalam wujudnya yang menyeramkan, hingga kemudian ia tanpa sadar mengulangi kejadian yang sama seperti saat Asih memandikan anaknya. Kejiwaan Puspita justru menjadi labil setelah kehadiran bidan.

Kontras Asih dan Puspita sebenarnya sangat menarik dalam film ini. Dengan karakteristik Puspita yang berubah pada pertengahan cerita, mulai percaya takhayul, tanpa sadar meninggalkan anaknya seorang diri di kamar padahal situasi sedang genting karena kedatangan Asih, adegan berlama-lama memandikan Amelia, anak demam karena kekurangan ASI, bisa menjadi hints bahwa sebenarnya Puspita mungkin mengalami baby blues. Seandainya Awi Suryadi bermain-main dengan isu ini, bisa dimungkinkan bahwa Asih bisa membawa penonton pada situasi di mana batas-batas antara yang nyata dan tidak nyata itu akan semakin kabur ketika seseorang mengalami kelabilan secara psikologis. Bukan tidak mungkin film ini akan menjadi lebih dalam, sekaligus bisa memberikan tawaran lain bahwa kehadiran makhluk tak kasat mata itu sebenarnya berasal dari pikiran tokoh yang masih hidup. Tetapi ternyata tim produksi Asih masih mau bermain aman, sehingga ketika permasalahan kecil dalam keluarga Andi ini muncul, maka tumbal yang dianggap merusak tatanan keluarga justru dari sosok hantu bernama Asih.

Keluarga tetap Utuh

 Secara gamblang Asih bisa dibaca sebagai perwujudan keluarga harmonis dalam masyarakat. Keluarga Andi adalah gambaran keluarga yang sempurna. Istri cantik dan penurut, Ibu yang selalu membantu, dan Andi selaku kepala keluarga dengan pekerjaan mapan sebagai Pegawai Negeri Sipil. Mereka dianugerahi anak perempuan sehat bernama Amelia. Kehadiran sosok Asih justru menghancurkan gambaran keluarga sempurna ini. Andi pada satu momen menjadi bapak yang tidak mampu berbuat apa-apa; sedangkan Puspita menjadi ibu yang lebih mempercayai takhayul dan terkadang meninggalkan anaknya seorang diri dalam beberapa adegan. Ketika Asih berhasil “dijinakkan”, gangguan akhirnya berhenti karena Ibu Andi berhasil mengubur sisir Asih pada tempatnya.

Dari cara film ini menghadirkan sebuah keluarga, pola-pola yang lazim di masyarakat masih tetap dipakai. Andi sebagai Bapak bertindak menjadi perwakilan keluarga, si pencari nafkah, dan pemimpin. Ini ditekankan saat dukun berkata, “bapaknya ikut saya!” dalam sekuen mengambil Amelia dari Asih. Puspita sebagai Ibu, digambarkan sebagai perempuan dengan tugas domestik (adegan mencuci baju dan memasak) yang seharian hanya berinteraksi dengan mertua dan anaknya. Penyelesaian masalah bisa dimungkinkan karena Andi sebagai Bapak mampu melantunkan adzan supaya anaknya dikembalikan. Kemudian, Puspita yang terlihat lebih lemah, ternyata bisa dirasuki oleh Asih. “Kekuatan lelaki” dan “perempuan lemah lembut” menjadi oposisi biner yang dipakai dalam film dalam membangun mitos keluarga sempurna.

Lalu apa fungsi Asih dalam cerita? Karena struktur keluarga ini menggunakan mitos yang memang sudah mapan dalam masyarakat, maka untuk menganggu dan memperlihatkan adanya goncangan dalam rumah tangga, digunakanlah sosok hantu perempuan. Keluarga adalah konsep mapan; sedangkan Asih menjadi gangguan karena dirinya yang berasal dari hal-hal di luar kewajaran (hamil di luar nikah, membunuh anak lalu bunuh diri). Ketika adegan keluarga Andi berhasil mengalahkan Asih, inilah momen di mana yang mapan akan tetap mapan. Dengan kata lain, Asih adalah sebuah pengulangan bagaimana sebuah keluarga sempurna mampu mengatasi suatu masalah, meskipun masalah itu berasal dari luar nalar. Dengan demikian, Asih justru semakin mematangkan konsep keluarga sempurna yang ada dalam masyarakat.

Kemudian hal menarik lainnya yang perlu dicatat adalah penghadiran masyarakat dalam film. Kekerabatan yang akrab dijumpai dalam film horor Indonesia pada era 1970-an dan 1980-an justru dihilangkan. Menurut Anggraeni Widhiasih, seorang kawan yang menemani saya menonton film ini, “Asih cenderung Jakarta-sentris”. Maksud dari pernyataan Anggra adalah, sutradara Asih gagap dalam melihat sistem yang berlaku di masyarakat. Masyarakat Indonesia era 1980-an yang biasa digambarkan komunal tidak dihadirkan dalam film ini. Misalnya, tidak adanya adegan tetangga berkunjung setelah Puspita melahirkan. Kemudian ketika gangguan Asih memuncak, tetangga dan Kyai/Ustaz juga tidak dihadirkan untuk memberikan dukungan pada keluarga yang sedang dilanda masalah ini. Anggra kemudian mengungkapkan bahwa hal seperti ini mirip dengan film Joko Anwar, Pengabdi Setan (2017), yang menjauhkan tokoh-tokoh utamanya dari masyarakat sekitar. Pernyataan Anggra tersebut mungkin terkesan terburu-buru, namun ini bisa menjadi pijakan selanjutnya untuk melihat perubahan lanskap film horor Indonesia ke depan. Tentu penghematan budget yang tidak memungkinkan untuk membawa orang se-RT ke lokasi film juga bisa menjadi bahan pertimbangan lain dalam melihat perubahan itu.

Namun saya sendiri memiliki pembacaan yang berbeda. Ini bukan masalah film dibuat oleh sutradara yang Jakarta-sentris, melainkan bagaimana sutradara mengajak penonton untuk bisa memaklumi masyarakat. Asih menggambarkan masyarakat yang egois, tidak memiliki simpati pada mereka yang mengalami kemalangan. Dalam sekuen flashback masa lalu Asih, penonton diajak untuk melihat cara masyarakat menolak kehadiran perempuan ini dan anaknya. Ada gambar bapak Asih yang mengusir dan ibu Asih yang menangisi keputusan bapaknya. Penduduk sekitar mencemooh dan menghujat Asih. Cara Awi dalam menghadirkan masyarakat dalam film sendiri melalui siluet orang-orang, tanpa adanya penjelasan dari sisi properti yang digunakan oleh penduduk tersebut. Masyarakat digambarkan benar-benar tidak perduli dengan perbuatan mereka dan hal ini memicu Asih mengalami baby blues.

Awi juga menghadirkan masyarakat tanpa simpati saat keluarga Andi berhadapan dengan Asih sebagai hantu. Meskipun Andi sudah berkata, “akan memanggil Pak Ustaz”; pergi ke rumah bidan untuk meminta alamat Pak Dukun; lalu ada adegan satpam dan penjual nasi goreng membicarakan kehadiran hantu perempuan di rumah Andi, namun tidak ada satu pun orang dari desa yang muncul membantu keluarga Andi. Pun saat adegan Andi dan dukun pergi mengambil Amelia, dua perempuan yang tertinggal di dalam rumah dibiarkan berada di ruangan terpisah, tanpa ada yang memasrahkan kondisi mereka pada tetangga sekitar. Apakah memang Awi benar-benar ingin menghadirkan masyarakat yang tidak peduli dengan keadaan sekitarnya? Ataukah memang Awi ingin menunjukkan sebuah situasi, di mana nantinya hanya konsep keluarga sempurna yang berhasil keluar sebagai “pemenang”? Film ini hendak menyatakan bahwa masyarakat sudah tidak dibutuhkan karena unit terkecilnya sudah bisa menangani hal-hal di luar nalar seorang diri.

“Sudahlah, Asih. Maafkanlah masyarakat. Kembalikan anak itu.”

 Cuplikan pernyataan dukun di atas menjadi kata kunci untuk memahami apa yang hendak disampaikan Asih. Dalam film ini, masyarakat yang tidak simpatik dengan orang-orang di luar norma dihadirkan begitu saja—tanpa ada gugatan, bahkan meminta untuk dimaafkan. Dan ternyata Asih bukanlah hantu kritis, yang meminta pertanggungjawaban moral dari masyarakat. Seketika ia langsung mengembalikan bayi Amelia pada keluarganya, kemudian menghilang. Asih membiarkan tatanan yang ada di masyarakat kembali seperti semula dan keluarga Andi tetap sempurna.

Kuntilanak sebagai Kuntilanak

Pada bagian ini, saya hanya menjabarkan hal-hal yang digunakan dalam film untuk menyatakan Asih adalah kuntilanak. Pertama, ketika bidan memberi wejangan perihal penggunaan gunting. Seketika itu, Puspita meletakkan gunting di bawah bantal. Begitu Asih datang menghantui, datang dari lemari, Puspita sudah bersiap membawa gunting yang ia acungkan pada sosok Asih. Ini sesuai dengan mitos tentang penggunaan gunting untuk menghalau roh halus yang sering saya dengar ketika menjadi ibu baru dua tahun yang lalu.

penggunaan siluet untuk menimbulkan kesan dramatis akan aksi masyarakat yang mengusir Asih. (Asih, 2018)

Kedua, adegan saat satpam dan penjual nasi goreng mendengar suara anak ayam. Satpam berkata demikian, “kalau ada suara anak ayam itu artinya rumah Pak Andi sedang didatangi hantu perempuan”. Adegan ini kemudian dilanjutkan dengan adegan Andi yang mendengar suara anak ayam, lalu ia berjalan ke arah penguburan ari-ari anaknya, dan mendapati ada sosok perempuan yang sedang makan plasenta. Dialog satpam dan nasi goreng tersebut menurut saya boros. Fungsi kehadiran satpam dan penjual nasi goreng hanya sebagai perantara untuk memberitahukan pada penonton sekaligus menghadirkan sisi komedi dari film horor ini yang kemudian hanya menjadi pengulangan karena pada akhirnya penonton mengetahui lewat gambar mengenai situasi rumah Andi yang sedang kedatangan tamu.

Lalu pada adegan kuntilanak makan ari-ari, ini menjadi sorotan utama bahkan dimunculkan dalam trailer film. Upaya untuk membuatnya tampak dramatis adalah dengan menghadirkan sosok seram Asih tersorot lampu yang dibawa Andi. Awi secara serampangan hanya mencomot mitos ‘kuntilanak suka makan ari-ari’ tanpa terjemahan ke dalam adegan tersebut. Mungkin ia hendak membangun pengalaman traumatis untuk keluarga Andi (dan juga penonton), mengenai situasi janggal ini. Tetapi karena penggarapannya serba nanggung, ia justru gagal menyajikan kengerian itu. Entah karena Awi belum fokus untuk membangun kengerian, atau justru karena ‘kuntilanak makan ari-ari’ sudah menjadi hal umum yang diketahui oleh penonton. Ditambah dengan wacana ‘makan plasenta’ untuk kecantikan yang sekarang beredar secara viral, adegan ini semakin tidak berguna.

Terakhir, korban jiwa dalam film ini hanyalah Asih dan anaknya. Selebihnya, keluarga Andi dan masyarakat tetap aman. Bahkan Ibu Andi diperlihatkan baik-baik saja setelah kejadian teror Asih menimpa keluarganya. Sungguh malang nasib Asih dalam cerita ini. Meski judul film menggunakan namanya, namun ternyata film ini bukan sebuah biografi untuknya. Awi bahkan tidak membuatkan adegan perjumpaan Asih dan anaknya barang sekali saja. Asih “dijinakkan” supaya ia bisa tidur selama lebih dari 35 tahun dan nantinya “dihidupkan” kembali dalam Danur. Pertanyaannya kemudian adalah, “Apa yang dilakukan Asih selama 35 tahun sebelum kisah Danur diujarkan?

Asih

Sutradara       : Awi Suryadi

Pemeran        : Shareefa Daanish, Citra Kirana, Darius Sinathrya, Alex Abbad, Marini Soermajosoemarno, Djenar Maesa Ayu, Egi Fedly

Durasi             : 78 menit

Genre              : Horor

Rumah Produksi: MD Pictures

Leave a Reply