Sumba From Java: Notes on Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya Films

At a glance, Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya depict Sumba as lacking – there is no certainty regarding to the law. They use different narratives and approaches to tell Sumba condition. Nugroho emphasizes on the Sumba who have two Name-of-the-Fathers, two kinds of laws, the tradition and the state. Letter for an Angel …

Sumba From Java: Notes on Garin Nugroho, Ifa Isfansyah, and Mouly Surya Films Read More »

No Comedy in Milly & Mamet the Movie

Milly & Mamet offers Instagram feeds. The way Ernest Prakasa, the director, chose the properties and its color, all black in the office, and image of food menu, all of them are common now. The references are Instagrasmism and K-pop video. Is this an attempt by Ernest, who wants to translate visual phenomena on social media? Did he just only celebrate Instagram’s aesthetic?

Tidak Ada Komedi dalam Milly & Mamet

Instagram feed terlintas setelah melihat keseluruhan rupa Milly & Mamet (2018). Pilihan properti, warna rumah, ruangan serba hitam milik anak konglomerat, dan cara kamera mengambil makanan merupakan rupa yang awam dijumpai sekarang ini. Kesan instagramisme dan video klip K-pop begitu kuat. Apakah ini upaya Ernest Prakasa selaku sutradara yang hendak menerjemahkan fenonema rupa di media sosial? …

Tidak Ada Komedi dalam Milly & Mamet Read More »

Happy Holiday, Fellas!

“Can’t bring back time. Like holding water in your hand.”  ― James Joyce, Ulysses Jadi ceritanya, bulan November lalu, saya tertantang untuk menulis mengenai salah satu sutaradara penting di era ini. Mulailah petualangan saya menyaksikan program retrospeksi di salah satu festival yang mengawinkan film “independen” dan “komersial” di Yogyakarta. Terakhir kali saya datang ke festival film ini …

Happy Holiday, Fellas! Read More »

Suzzanna: Ketika Horor jadi Komedi

Suzzanna Bernapas dalam Kubur berusaha mendekati tahun 1989 sebagai latar waktu cerita. Ada banyak hal yang hendak disampaikan oleh film ini. Pertama, melalui pembangunan latar tempat yang disesuaikan dengan era 1980-an, ia berusaha membawa penonton pada sisi nostalgia. Kedua, penghalusan mengenai konsep ‘sundel bolong’, menghilangkan sundal sebagai akar kelahiran hantu perempuan ini. Ketiga, penghilangan negara …

Suzzanna: Ketika Horor jadi Komedi Read More »

Wiro Sableng 212 : Silat Dibalut Kisah Superhero

Upaya untuk menghadirkan superhero yang awam dikenal di Indonesia dengan selera pasar (Hollywood) tampak menjadi proyek yang super-ambisius dalam Wiro Sableng 212. Film yang disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, digarap oleh studio Lifelike Pictures bekerja sama dengan Fox International Production (anak dari 20th Century Fox), memang melibatkan banyak sumber daya manusia, baik untuk produksi maupun …

Wiro Sableng 212 : Silat Dibalut Kisah Superhero Read More »

Fantasi Percintaan dan Mysterious Man sebagai Peretas Realitas dalam Lost Highway

Yogyakarta, Oktober 2015 Harus saya akui bahwa Lost Highway (David Lynch, 1997) merupakan salah satu film yang susah untuk ditonton. Terkadang latar suara dalam film ini membuat saya harus mengecilkan volume laptop, dan cahaya yang terlalu terang dalam adegannya membuat saya ingin menutup mata. Film ini seperti sebuah puzzle. Semakin saya menata keping-keping misteri dalam film, semakin banyak …

Fantasi Percintaan dan Mysterious Man sebagai Peretas Realitas dalam Lost Highway Read More »

Tatapan (gaze) dan Komedi dalam Film Nawi Ismail

Pada 23 September yang lalu, saya membagi hasil penelitian mengenai film Nawi Ismail. Acara berlangsung di Rumah Lifepatch. Saya membagikan hasil belajar saya mengenai konsep tatapan (gaze) yang ditawarkan oleh Todd McGowan. Tatapan ala Lacanian mampu membantu dalam membedah teks film. Seperti apa caranya? Bagaimana mengaplikasikannya? Diskusi berlangsung hangat dan dihadiri oleh seniman, akademisi, dan …

Tatapan (gaze) dan Komedi dalam Film Nawi Ismail Read More »

Tubuh Ketiga (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin)

Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin, Direktur Teater Garasi,  telah dipublikasikan di MediaSastra.com pada 27 Maret 2011. Selesai pertunjukan “Tubuh Ketiga” saya tidak langsung mewawancarai Yudi Ahmad Tajuddin selaku sutradara. Yudi yang setelah pertunjukan tampak kelelahan meminta saya untuk datang ke Studio Garasi di Bugisan. Tanggal 20 Maret 2011 saya pergi ke daerah selatan Yogyakarta itu. Yudi juga …

Tubuh Ketiga (Wawancara dengan Yudi Ahmad Tajudin) Read More »